Nur Salim: Persoalan Kesehatan Masih Menjadi Tantangan Serius bagi Masisir
ksmrmesir.org — Persoalan kesehatan menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Mesir. Berdasarkan data Protokol dan Konsuler (Protkons) KBRI Kairo, sejak tahun 2020 hingga saat ini tercatat 27 warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia di Mesir. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal akibat faktor nonkesehatan, sedangkan sisanya disebabkan oleh persoalan kesehatan.
Fakta tersebut disampaikan oleh Nur Salim, Lc., M.S.I., panelis dari KBRI Kairo, dalam diskusi Apa Kabar Masisir Part 2 bertajuk “Kualitas Masisir Menurun? Siapa yang Harus Berbenah?” yang diselenggarakan PPMI Mesir pada Ahad (5/7) di Cafe Nadi Qoumi.
Menurut Nur Salim, data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan di kalangan Masisir tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia menilai kondisi ini menjadi salah satu persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian seluruh elemen mahasiswa Indonesia di Mesir.
Pengalaman selama bertugas di Protkons semakin menguatkan pandangannya. Ia mengisahkan pernah datang langsung ke rumah sakit Angkatan Udara untuk bernegosiasi dengan jajaran manajemen terkait tagihan perawatan seorang Masisir yang nilainya hampir mencapai 500.000 pound Mesir. Baginya, kasus tersebut menjadi gambaran nyata besarnya tantangan yang dihadapi sebagian mahasiswa Indonesia ketika berhadapan dengan persoalan kesehatan.
Selain itu, Nur Salim menjelaskan bahwa berbagai persoalan Masisir secara umum terbagi ke dalam dua kategori, yaitu akademik dan nonakademik. Persoalan akademik berada di bawah koordinasi Atase Pendidikan, sedangkan persoalan nonakademik menjadi ranah Protokol dan Konsuler KBRI Kairo.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyoroti belum adanya data yang benar-benar valid mengenai jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir.
“Saya ingin mengatakan bahwa tidak ada data yang valid terkait berapa jumlah Masisir saat ini. Tetapi, berdasarkan catatan yang dimiliki KBRI, jumlah WNI per 31 Mei adalah 23.345 orang yang mayoritas merupakan Masisir. Namun, angka tersebut masih bersifat perkiraan dan belum benar-benar valid.”
Menanggapi tema diskusi, Nur Salim menegaskan bahwa penurunan kualitas Masisir merupakan persoalan yang harus dihadapi secara bersama.
“Menurun dalam artian dulunya tinggi menjadi rendah, maka itu adalah persoalan yang wajib kita jawab bersama-sama.”
Ia menekankan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi Masisir, termasuk kesehatan, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Seluruh elemen Masisir perlu berbenah dan mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berkualitas.
Reporter: Yahyo Lincoln
Editor: Raihana Salsabila