Karya tentang Isu Gender dalam Teks Keagamaan, Muthi’ah Sabet RSA Award 2026
ksmrmesir.org — Kamis (30/4) Muthi’ah Syahidah Ridho Ilahi berhasil meraih Rumah Syariah Award: Karya Tulis Ilmiah Akademik (KTIA) Terbaik, dalam acara Wisuda Rumah Syariah ke 2026 yang bertempat di Golden Halls, Hay Sadis, Kairo.
Penghargaan tersebut ia raih atas karya tulis yang diangkat dari kegelisahan pribadi sekaligus keresahan bersama, terkhusus terkait pandangan sinis masyarakat—terutama perempuan—terhadap teks-teks keagamaan yang kerap dianggap timpang gender.
Ia memilih judul “Meninjau Bias Patriarki dalam Tafsir Klasik: Relevansi Qiroāh Mubādalah Sebagai Metode Pembacaan Teks Gender” sebagai bahan penelitian. Sejak awal, Muthi’ah menegaskan bahwa karya tersebut tidak diniatkan hanya untuk syarat kelulusan, tetapi sebagai bagian dalam menyebarkan syiar kelimuannya.
“Sejak pertama kali menulis, saya tidak pernah meniatkannya hanya untuk lulus. Saya niatkan untuk syiar,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Baginya, penghargaan ini bukanlah hasil akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. Proses penyusunan karya di Rumah Syariah sendiri melalui tahapan yang ketat; mulai dari screening, bimbingan intensif, hingga dua kali sidang, yakni sidang outline dan sidang akhir.
Perjalanan Muthi’ah di Rumah Syariah tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat merasa tertinggal ketika berada di lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang dengan kapasitas keilmuan tinggi. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik pembelajaran penting.
Ia mengatakan, tantangan terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri; melawan rasa malas, merasa cukup, dan ilusi sudah pintar. Dari situlah ia belajar bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh siapa yang memulai lebih dulu, tetapi siapa yang mampu bertahan hingga akhir.
Selain itu, ia juga sempat menghadapi dilema dalam membagi fokus antara peran di bidang media dan kewajiban utama sebagai penuntut ilmu. Hingga akhirnya, ia memilih untuk mengintegrasikan keduanya sebagai bagian dari kontribusi dalam syiar.
“Tidak ingin lulus hanya sebagai orang yang pandai di balik layar, tapi juga kuat dalam keilmuan,” jelasnya.
Lebih jauh, Muthi’ah memaknai prestasi bukan sebatas penghargaan atau pengakuan publik. Ia menilai bahwa prestasi sejati justru sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana dan tidak terlihat.
“Prestasi bisa berupa mampu bangkit saat hati berat, tetap belajar saat pikiran kusut, dan ikhlas ketika tidak mendapat pengakuan,” ungkapnya.
Di akhir, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pembimbing KTIA dan asatiz Rumah Syariah, serta pesan kepada para pelajar untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berada di lingkungan yang penuh ilmu dan keberkahan. Ia mengingatkan agar setiap individu mampu memaksimalkan waktu dan mengambil setiap peluang yang ada.
“Jangan sampai kita dekat dengan sumber ilmu, tapi tidak memanfaatkannya. Teruslah berjuang, karena setiap langkah sedang membentuk masa depan,” pungkasnya.
Reporter: Yahyo Lincoln
Editor: Raihana Salsabila