Hanya Kenangannya, Bukan Orangnya

Hanya Kenangannya, Bukan Orangnya

 

Oleh: Lidia Arista

 

Malam di Kairo selalu punya cara sendiri untuk menusuk kulit, tapi dinginnya kali ini terasa berbeda. Ia tidak membeku, namun cukup tajam untuk mengiris lapisan-lapisan ingatan yang sudah susah payah kutimbun. Aku berjalan pelan menelusuri trotoar yang ramai. Di kanan-kiriku, pedagang kaki lima menjajakan balon warna-warni dan lampu hias yang berpendar terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas aspal. Setiap kerlip lampu itu seperti proyektor yang memutar ulang film lama di kepalaku sakit. Ingatanku terlalu tajam untuk hal-hal sekecil ini.


Langkahku terhenti di depan seorang penjual gulali. Aku membeli satu yang paling besar. Gumpalan merah muda yang ringan itu tampak seperti awan—tapi bagiku, ia adalah jangkar yang menarikku kembali ke sebuah tanggal yang sangat ingin kuhapus dari kalender hidupku. Tanggal yang ingin kubuang sejauh mungkin, hingga tak ada lagi koordinat yang bisa menemukannya.


“Hanya kenangannya, bukan orangnya,” bisikku pada angin yang berembus di sela-sela gedung tua.


Aku menggenggam stik gulali itu erat-erat sepanjang jalan pulang. Sesampainya di kamar, keheningan menyambutku. Aku menatap gulali besar itu di bawah lampu temaram. Ia adalah simbol kebahagiaan yang semu, sesuatu yang manis namun mudah hancur—persis seperti momen yang sedang kuratapi ini.


Tiba-tiba, rasa sesak itu memuncak. Aku tidak ingin berlama-lama terjebak dalam pusaran ini. Dengan kedua tangan, aku meremas gulali itu. Tekstur lembutnya berubah menjadi tipis dan lengket di jemariku. Tak ada lagi bentuk awan yang indah, hanya sisa-sisa gula yang hancur. Lalu, aku melahapnya dengan cepat.


Rasa manis yang pekat meledak di lidahku, paksa dan terburu-buru. Aku memakannya seolah-olah sedang menghancurkan barang bukti. Aku ingin rasa manis ini segera habis, agar kesedihan yang bercampur aduk ini tidak punya alasan lagi untuk menetap.


Malam itu, aku membekukan waktu dengan caraku sendiri. Biarlah kenangan itu menjadi tipis seperti gulali yang kuremas, lalu hilang tertelan sunyi. Aku hanya ingin bangun esok pagi tanpa harus menoleh ke belakang lagi.

Hanya Kenangannya, Bukan Orangnya

2 Responses

Leave a Reply to Mee Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *