Di Bawah Kubah Al-Azhar

Di Bawah Kubah Al-Azhar

Mentari sore mulai condong ke barat ketika halaman Masjid Al-Azhar dipenuhi langkah para penuntut ilmu. Sebagian membawa kitab-kitab tebal di dada, sebagian lagi duduk melingkar sambil mengulang pelajaran. Dari dalam masjid terdengar lantunan Al-Qur’an yang mengalun lembut, menyatu dengan hembusan angin yang melewati tiang-tiang tua berwarna putih.


Di salah satu sudut serambi, Faris duduk sendiri sambil membuka kitab nahwu yang sudah penuh dengan coretan tinta. Wajahnya tampak lelah. Beberapa hari lagi ujian akan dimulai, tetapi ia masih merasa belum memahami banyak pelajaran.


“Apa aku benar-benar pantas belajar di sini?” gumamnya pelan.


Tak jauh darinya, seorang syekh tua yang setiap hari mengajar selepas Asar memperhatikan Faris. Dengan langkah perlahan beliau menghampiri faris dan duduk di sampingnya.


“Mengapa wajahmu muram, wahai anak muda?” tanyanya sambil tersenyum.


Faris menunduk, matanya terlalu malu buat menatap wajah teduh syekh itu. “Aku sudah belajar siang dan malam, tetapi rasanya ilmu ini begitu luas. Semakin belajar, semakin aku merasa bodoh.” Ucap faris dengan nada pelan.


Syekh itu tersenyum lebih lebar. Senyum yang membuat faris merasakan aura yang sangat teduh dari seorang syekh azhar.


“Perasaan itu bukan tanda kegagalan. Justru itulah awal dari ilmu. Orang yang benar-benar belajar akan menyadari betapa sedikit yang ia ketahui.”


Ucapan itu membuat Faris terdiam. Ia menatap kitab nahwu yang ada di genggamannya, lembaran-lembaran yang sebelumnya putih bersih, kini terlihat penuh dengan coretan.


Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang. Suaranya menggema memenuhi kawasan Al-Azhar. Seluruh percakapan berhenti. Para mahasiswa bergegas mengambil saf, meninggalkan kitab-kitab mereka dengan penuh keyakinan bahwa ilmu akan selalu menunggu orang yang mendahulukan panggilan Allah.


Setelah salat, halaman masjid diterangi cahaya lampu yang hangat. Faris kembali membuka kitabnya. Anehnya, pelajaran yang sejak tadi terasa rumit mulai mudah dipahami. Ia teringat nasihat sang syekh bahwa ilmu bukan sekadar hasil dari kecerdasan, tetapi juga buah dari kesabaran, doa, dan keikhlasan.


Sebelum pulang, Faris memandang kubah Masjid Al-Azhar yang berdiri megah di bawah langit malam Kairo. Ia membayangkan berapa banyak ulama besar yang dahulu pernah berjalan di pelataran yang sama, membawa kegelisahan yang serupa, lalu pulang dengan cahaya ilmu yang menerangi dunia.


Malam itu Faris melangkah meninggalkan masjid dengan hati yang jauh lebih tenang. Ia sadar bahwa menjadi penuntut ilmu bukan tentang siapa yang paling cepat memahami, melainkan siapa yang paling sabar melangkah. Selama kubah Al-Azhar masih menaungi para pencari ilmu, harapan untuk menjadi lebih baik akan selalu hidup.

Di Bawah Kubah Al-Azhar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *