Air Mata di Sepertiga Malam
Oleh: Muhammad Humamuddin Khalid
Angin malam menyelinap pelan lewat celah jendela kamarku. Dingin… tapi lembut. Seperti ada seakanyang sengaja menyentuh ragaku, membelainya perlahan—bukan untuk menggangguku, tetapi seakan ingin membangunkanku.
Mataku terbuka. Nafasku berat. Namun seketika, aku terdiam… lalu ingatan itu datang kembali, seperti enggan pergi. Ya, dosa itu. Seperti luka yang belum kering, rasa bersalah itu kembali datang mencari tuannya.
Kamar itu sunyi, dengan cahaya kuning redup yang menghiasi atap kamarku. Aku menoleh ke arah jendela. Tirai tipis bergerak pelan ditiup angin. Dingin malam itu terasa sangat berbeda, tidak sekadar dingin, tetapi seperti seruan yang memanggilku.
Aku bangkit. Entah kenapa langkahku terasa berat menuju kamar mandi yang persis ada di depan kamarku. Air dingin yang menyentuh kulit terasa sangat menyiksa, tetapi aku tidak menghindar. Justru aku membiarkan dingin itu seperti menampar wajahku. Seakan aku ingin menghukum diriku.
Air dingin itu menyentuh wajahku, bercampur dengan air mata yang jatuh tanpa izin. Tiba-tiba, aku teringat suara lembut almarhumah ibuku. “Nak…,” panggilnya lembut, suaranya tipis bergetar, seolah menahan rindu yang tak sempat terucap. “Kalau kamu jatuh, jangan pernah menjauh dari Allah… mendekatlah.”
Saat itu, hatiku runtuh.
Ibu…
Aku berdiri menghadap kiblat. “Al… Allah… Allahu… akbar….” Bibirku bergetar, hampir tak mampu menyelesaikan kata-katanya.
Di rakaat pertama, bacaan Al-Qur’anku terputus-putus. Di rakaat kedua, suaraku hampir hilang. Dan saat sujud…, dahiku menempel lama di sajadah, terlalu lama. Tubuhku bergetar menahan isak tangis yang telah lama kutahan.
Ya Allah… suaraku pecah.
Air mataku mengalir deras, membasahi sajadah tipis itu. Aku tahu aku salah… tetapi aku tidak punya tempat lain selain Engkau…. Tangisku semakin dalam. Kalau Engkau tidak mengampuniku… aku harus ke mana lagi…
Sunyi. Namun di dalam sunyi itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya—seolah Engkau tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan rasa. Aku duduk lama setelah salat, menatap kosong ke arah sajadah.
Angin malam kembali berhembus, menyentuh wajahku sekali lagi. Namun kini, bukan dingin yang aku rasakan, melainkan hangat. Seperti pelukan. Tangisku pecah dalam diam.
Malam tetap sunyi. Namun perlahan, hatiku terasa ringan. Seolah ada yang memelukku tanpa terlihat. Dan di sepertiga malam itu, seorang pendosa mulai berhenti bersembunyi dan memilih pulang.