Ustaz Ihsan Muhtadi: Tasawuf yang Jarang Dibicarakan adalah Tasawuf di Maqam Ihsan

Ustaz Ihsan Muhtadi: Tasawuf yang Jarang Dibicarakan adalah Tasawuf di Maqam Ihsan

 

Ksmrmesir.org — Teras Falsafatuna berkolaborasi dengan As-Safir HMMSU menggelar acara Bukber dan Kajian Ramadan bertajuk “Tasawuf yang Jarang Dibicarakan.” Kegiatan ini berlangsung di Istana Maimun HMMSU, Nasr City, Kairo, dengan menghadirkan Ustaz Ihsan Muhtadi sebagai pemateri dan Rakish Al Hazen sebagai moderator.

 

Acara dibuka dengan sebuah pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan, yaitu mengenai tasawuf yang sering kali identik dengan bulan Ramadan. Namun, di Indonesia, istilah tasawuf kerap mengalami pergeseran makna. Banyak orang menganggap seorang sufi sebagai sosok yang memiliki kemampuan luar biasa atau kekuatan di luar kebiasaan. Lantas, benarkah tasawuf memang demikian? Ataukah terdapat makna yang lebih mendasar di baliknya?

 

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Ihsan Muhtadi menjelaskan bahwa tasawuf memiliki banyak definisi. Ia mengutip salah satu karya Syekh Ahmad Zarruq—seorang ulama besar asal Maroko. Dalam kitab At-Ta‘rifat az-Zarruqiyyah, Syekh Ahmad Zarruq menghimpun berbagai istilah (musthalahat) yang menjelaskan tentang hakikat tasawuf. Dari sekitar 20 definisi yang disebutkan dalam kitab tersebut, Ustaz Ihsan memaparkan beberapa di antaranya.

 

Pertama, tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati serta memurnikannya hanya untuk Allah Swt., bukan untuk selain-Nya. Kedua, tasawuf diartikan sebagai al-khuruj min khuluqin daniy wa at-takhalluq bi khuluqin saniy, yaitu keluar dari akhlak yang rendah dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

 

Dalam pemaparannya, Ustaz Ihsan juga menjelaskan definisi tasawuf yang berbunyi ‘ilmun qusida li ishlah al-qulub wa ifradiha lillahi ‘amma siwahu, yakni ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan mengkhususkannya hanya kepada Allah dari selain-Nya.

 

Imam Zarruq juga menyebutkan bahwa tasawuf adalah al-khuruj min khuluqin daniy wa at-takhalluq bi kulli khuluqin saniy, yaitu keluar dari akhlak yang buruk dan menghiasi diri dengan seluruh akhlak yang baik. Dari konsep ini kemudian dikenal pula istilah takhalli, tahalli, dan tajalli.

 

Untuk memudahkan pemahaman, Ustaz Ihsan menganalogikannya seperti sebuah gelas yang pernah diisi kopi lalu dibiarkan selama beberapa minggu hingga berjamur. Sebelum digunakan kembali, gelas tersebut harus dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu.

 

Begitu pula dengan hati manusia. Ia harus melalui proses takhalli—membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, kemudian tahalli—menghiasinya dengan sifat-sifat baik, hingga akhirnya mencapai tajalli, yaitu tersingkapnya cahaya kebaikan dalam diri.

 

Dengan demikian, inti dari tasawuf adalah memurnikan penghambaan kepada Allah Swt., menjadi hamba yang sejati, serta menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

 

Pada penutup kajian, Ustaz Ihsan Muhtadi menjelaskan kembali makna dari tema yang diangkat dalam acara tersebut. Ia menuturkan bahwa yang dimaksud dengan tasawuf yang jarang dibicarakan adalah tasawuf yang mampu menggabungkan antara hakikat dan syariat.

 

“Lalu tasawuf yang benar-benar berada pada maqam ihsan, itulah tasawuf yang jarang dibicarakan. Begitu juga sikap ulama tasawuf yang berjuang untuk i‘la kalimatillah, itu juga jarang dibicarakan,” ungkapnya.

 

Ia pun berpesan kepada para peserta agar ketika kembali ke Indonesia kelak, mereka dapat menyampaikan pemahaman tasawuf yang benar kepada masyarakat.

 

“Ketika nanti kembali ke Indonesia, kita harus mengajarkan tasawuf yang benar. Bukan sekadar bershalawat atau burdahan lalu setelah itu pacaran. Bukan itu yang kita inginkan,” tutupnya.

 

Reporter: Yahyo Lincoln

Editor: Raihana Salsabila

 

Ustaz Ihsan Muhtadi: Tasawuf yang Jarang Dibicarakan adalah Tasawuf di Maqam Ihsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *