Titik Balik

Titik Balik

 

Oleh: Hirein Assabil

 

Pemuda berambut kusut itu terbaring di atas dipan jati. Sudah dari tujuh jam yang lalu ia berkutat dengan media kotak, membenamkannya dengan dunia ketidakacuhan. Apalah yang akan dikerjakan Adit pada hari Minggu yang cerah ini, selain menatap indah benda kotak itu. Mau ibu meneriakinya sekalipun, bahkan untuk menepis perut kosongnya itu, ia tetap tidak bergeming. Kali ini, alam sepertinya akan berbaik hati memberikannya pelajaran. Bagai ombak yang mendera-dera menghantam bebatuan karang. Bagai langit yang menumpahruahkan isinya dari awan hitam yang menggumpal. Hari ini, detik ini, tepat pada pukul 02.00 WIB, sesuatu akan membasuhi wajah ketidakacuhan itu.

 

Matahari mulai meninggi, menyingsing dedaunan dan celah-celah pepohonan. Pemuda 17 tahun itu terbangun oleh lambaian mentari yang menerobos masuk dari celah-celah jendela rumah, membiarkan aura pagi benar-benar khas hari itu. Masih dengan rambut kusut, wajah kusam, dan mata yang masih mengerjap-ngerjap, ponsel adalah hal pertama yang terlintas di pikirannya.

 

“Mana? Mana ponselku?” tanya Adit panik. “Ibu… Ibu!! Ponselku mana?!”

 

Ibu yang sedang menuangkan sambal lalapan ke atas mangkok itu pun mengerutkan dahi, sambil bertanya balik.

 

“Ponsel apa, Dit?”

 

“Itu loh, Ibu… iPhone Adit. Ibu ada lihat tidak?”

 

“Aduh, Adit… Kamu itu ngomong apa, sih? Lebih baik kamu buruan mandi dulu, deh. Baru bilang baik-baik barang apa yang hilang,” jawab Ibu dengan wajah ringannya.

 

Namun jawaban Ibu sama sekali tidak membantu kepanikan Adit. Tapi ada baiknya apa yang dikatakan Ibu barusan. Ia harus segera bergegas mempersiapkan diri menghadiri upacara Senin pagi. Bahaya kalau sampai Pak Agus mencegatnya di gerbang pintu masuk. Bisa-bisa apes deh seharian ini dia tidak diizinkan mengikuti pembelajaran.

 

“Ibu benar tidak mengambil handphone Adit? Kan nggak mungkin ponselku hilang tiba-tiba kalau nggak ada orang yang ngambil,” gerutu Adit masih dengan pertanyaan yang sama.

 

“Adit, Ibu tidak mengerti apa yang kamu maksud,” belum genap jawaban Ibu, suara klakson khas dari motor NMax-nya Farhan lebih dulu menggelegar, menghentikan percakapan Ibu dan anak yang tak sudah-sudah. Namun seperti kata pepatah, jawaban tidak harus didapat dengan segera. Barangkali ini hanya soal waktu. Dan lihatlah! Kali ini waktu pulalah yang satu per satu akan menjawab semua kegelisahan Adit.

 

Di depannya, kini bukan NMax gagah dengan borderan api setengah menjalar itu yang membuatnya terperangah, tapi di hadapannya sekarang berdiri satu motor butut dengan knalpot yang mencicit riuh. Bahkan Pak Rudi, tetangga di sebelah rumah, pun mengomel tentang knalpotnya Farhan. Tak ada lagi mobil Avanza yang biasanya terparkir rapi di halaman rumah Buk Ani. Bukan bata lagi yang menjadi lapisan rumah-rumah di Kampung Beringin itu. Semua berubah. Semua terlihat berbeda. Sungguh, pemandangan yang betul-betul membuat Adit terkesiap.

 

“Han, aku tidak sedang bermimpi, kan?” tanya Adit setelah duduk manis di atas motor Farhan. Sudah jadi rutinitas mereka di hari sekolah. Farhan, yang rumahnya hanya berjarak 10 langkah dari rumah Adit, ringan hati memberinya tumpangan.

 

“Coba deh kamu cubit tanganku, Han.”

 

“Lha, buat apa, Dit? Dari tadi kamu berlaku aneh, deh.”

 

“Emang kamu tidak ngerasain, Han?”

 

“Wah, kamu benar, Dit. Aku merasakannya. Atmosfer hari Senin, kan?”

 

“Bukan itu lho, Muhammad Farhan Fauwazil. Aku serius ini! Yang pertama tadi aku kehilangan ponsel. Padahal semalam jelas-jelas aku letakkan di atas kasur. Terus waktu kutanyain sama Ibu, eh, ibu malah tidak tahu apa-apa. Jangan bilang kamu juga mau mengatakan hal yang sama,” ujar Adit.

 

Sekali lagi, jawaban tidak harus datang di saat yang cepat, tapi di waktu yang tepat. Baik rumah maupun sekolah, Adit masih tenggelam dengan kebingungan tak berkesudahannya. Bak seorang pengembala di ladang tetangga, Adit terlihat celingukan ke sana-ke sini. Hingga motor butut itu memperlambat raungannya beberapa meter sebelum tikungan Jalan Kediri.

 

“Eh, itu…,” gumam Adit sambil mengucek-ngucek matanya, seakan tak percaya bahwa di depannya kini berdiri lusuh sebuah Sekolah Menengah Atas SMA 3 Lubuk Basung yang menawarkan esensi berbeda dari sorot mata yang tertangkap oleh Adit.

 

“Ke… Kenapa semuanya berbeda?” lirih Adit, sembari melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Farhan yang jauh terlihat lebih tenang darinya.

 

“Aku tak terbiasa dengan semua ini!” Suara lantang Adit kini mulai tak karuan. Dadanya berdegup kencang. Langkah kakinya menderu-deru menuju gerbang sekolah, membuat puluhan pasang mata mengalihkan pandang ke arahnya.

 

“Seseorang, apa sedang mempermainkanku?!” Kini Adit mulai tampak tidak rasional.

 

“Di mana ponsel yang biasa kalian pegang? Di mana motor-motor gagah yang bertengger rapi di samping kantin sekolah? Apa yang terjadi sebenarnya?!” Teriakan itu benar-benar menghasilkan pandangan penuh murid-murid ke arah Adit. Untuk orang yang terbiasa larut dengan barang-barang yang memadai harinya, tentu ini menjadi sesuatu yang janggal bagi Adit. Di hadapannya semua serba kuno. Semua serba alot. Semua serba tidak modern. Entah bagaimana hatinya lapang untuk membiasakan kebiasaan yang tak biasa ini.

 

“Masalah akan terlihat kecil di hati orang yang lapang, dan akan terlihat besar di hati orang yang sempit.” Suara itu terdengar jelas. Ya, sangat jelas bahkan untuk menghentikan langkah kaki Adit yang setengah berlari ke arah pohon palem di samping sekolah.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi? Seseorang bisakah memberiku jawaban?” Entah bertanya ke siapa, Adit tetap mengutarakan pertanyaannya. Namun sayup kemayup suara itu sekali lagi terdengar.

 

“Sejatinya, hanya kamu sendiri yang mampu menciptakan rasa nyaman itu, Adit. Kemudahan hanya menjadikanmu runyam dalam menghadapi permasalahan, dan luput dalam mengartikan sebuah kebahagiaan.” Kali ini Adit betul-betul terdiam. Mengatur napas. Mencoba memahami makna dari untaian kalimat itu. Ya, orang itu benar. Adit tidak mendapati siapapun di sini selain dirinya sendiri yang merupakan pengendali. Buktinya saja, orang-orang itu terlihat bahagia mengoper bola, saling melempar tawa. Bahkan satu-dua ada yang menimpuk temannya gara-gara salah menendang bola. Lantas, alasan apa yang membuatnya merasa tidak sanggup untuk bertahan?

 

“Lalu apa yang harus kulakukan?!” Setengah berteriak, ia berharap mendapatkan jawaban dari suara misterius itu. Tapi nihil. Tidak lagi ada sautan yang terdengar olehnya.

 

“Baiklah, kali ini tidak harus dengan gadget. Tidak harus dengan barang-barang mewah yang membuatku bahagia.” Adit melangkahkan kakinya dengan mantap, bergabung dengan kumpulan kawan-kawan lain yang sedang bermain bola. Pelajaran Penjaskes. Sudah dua jam ternyata dia merenung di bawah pohon palem itu.

 

“Boleh aku ikut bergabung, teman-teman?”

 

“Ini dia yang kita tunggu!” Sahutan dari Fino bak kelakar oleh yang lain.

 

“Asal kamu tahu aja, Dit. Tadi Pak Aidil menanyakanmu, lho. Untung saja belum jadi dibuat alfa.”

 

“Iya, Dit. Kami kekurangan pemain hebat di sini. Luhan tidak handal bermain bola. Enak saja dia menendang bola ke gawang timnya sendiri.”

 

“Yah, aku kan sudah minta maaf,” bujuk Luhan pada teman-temannya, diikuti oleh tawaan ria teman-teman sekelas.

 

“Adit, ngomong-ngomong tadi pagi kamu kenapa?” Farhan dari arah belakang sengaja betul menepuk bahu Adit keras, yang menepuk malah terbahak menyaksikan wajah meringis milik temannya itu.

 

“Apanya yang kenapa?”

 

“Lah, tadi bukannya kamu sendiri yang membuatku bingung?”

 

“Ah, tidak ada apa-apa, kok! Aku hanya sedikit pusing saja tadi,” elak Adit. Ia sadar bahwa tidak ada yang perlu dikeluhkan lagi di sini. Membaur dan menciptakan sendiri rasa nyaman itu mungkin adalah solusi yang terbaik. Atau memang itulah solusinya. Dengan gadget, dia lebih memilih bungkam di kamar. Dengan gadget, dia lebih memilih acuh sautan dari ibunya. Dengan gadget, dia tidak dapat memaknai arti dari sebuah kebersamaan. Larut dan kalut dengan dunianya sendiri.

 

Sore yang cerah di hari yang sama. Senyum riang tergaris lebar di raut muka pemuda 17 tahun itu. Gundah gulana kini merekah lenyap. Kusut dan ragu kini berganti percaya. Dengan langkah mantap, ia yakin bahwa hari besok akan lebih mudah untuk dilalui.

 

Brakk!!

Belum genap keyakinannya itu, seseorang dari arah berlawanan menubruk keras bahu Adit. Sebelum menyadari apa yang terjadi, orang yang tak sengaja berpapasan dengannya itu lebih dulu memaki.

 

“Bisa tidak kalau jalan itu hati-hati?! Lihat! Gara-gara kamu, ponsel aku jadi pecah kan!!” Orang itu mendengus kesal. Adit seketika terperangah, menatap kosong pada ponsel yang ditunjuk-tunjuk oleh pria paruh baya itu.

 

“Ak, aku… ti, tidak… bagaimana bisa?!” Adit gelagapan. Linglung dengan yang barusan terjadi. Dilihatnya sekeliling, semuanya masih tetap sama seperti sedia kala. Jejeran rumah-rumah kayu, jalan yang tidak memadai, bahkan untuk Honda knalpot rusuh milik Farhan pun hanya satu-dua terlihat.

 

“Apa yang kamu bilang barusan? Ponsel?!”

 

“Eh, kamu, tunggu sebentar!” Namun yang diseru sudah lebih dulu hilang dari pandangan. Raib. Jejak kaki pria paruh baya itu bagai pasir di bibir pantai, tersapu buih-buih ombak. Hilang, tak berbekas. Adit menatap kembali sekelilingnya. Bahkan rinai pohon ceri di sepertigaan jalan ini pun ikut membiarkannya tenggelam dengan beribu tanda tanya. Adit memilih abai. Melanjutkan perjalanannya dengan sisa-sisa semangat yang masih diselipkannya di pundak.

 

Malam tiba dengan purnama yang digantungkan indah. Semburat angin malam memberi kesan damai di penghujung hari itu. Ditambah lagi dengan semua yang terjadi, Ibu Adit terlihat menyunggingkan bibir dari daun pintu, tersenyum puas melihat anaknya kembali ceria seperti yang diharapkannya.

 

“Apa pelajaran yang kamu dapat hari ini, Adit?” tanya Ibu masih dengan senyum anggunnya.

 

“Ah, pokoknya seru deh! Ibu tak akan bisa membayangkan apa yang Adit lalui hari ini.” Demi mendengar kalimat itu, Ibu Linda puas bertabur bangga atas misinya. Oh iya… ngomong-ngomong tentang misi, ia teringat sesuatu. Ya, membalikkan keadaan seperti semula. Diraihnya buku tua dan sedikit berdebu itu. Suara gesekan berdesis dari kertas halaman pertama, kedua, hingga halaman kelima, sebuah tombol hijau tampak menyala-nyala.

 

“Misi berhasil!,” katanya…

Titik Balik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *