Secangkir Green Tea Hangat

Oleh: Yahyo Lincoln
Malam dingin hari itu. Dua pemuda yang umurnya tidak muda-muda amat berjalan ke sana kemari mencari tempat makan untuk menjinakkan perut mereka yang sudah keroncongan sejak siang hari. Layaknya anak rantau yang makan dua kali sehari, makan malam adalah santapan penutup untuk menutup hari.
Ogi dan Aji—dua pemuda inilah yang sedang mencari penawar racun perut.
“Aku tahu tempat makan murah, Ji. Di sana ada mi Thailand enak,” ucap Ogi yang setiap hari makan mi instan.
“Dari mana kau tahu? Bukannya kau selalu makan mi instan?” jawab Aji menyela Ogi.
“Ada lah pokoknya. Ada satu agenku yang makan di sana kemarin.”
Bagi Ogi, makan hanyalah sekadar mengisi perut untuk melanjutkan hidup—tidak perlu makanan mahal-mahal.
“Kata agenku, mi di sana murah. Di zaman sekarang, kita harus pintar-pintar solving meny, Men,” sabda Ogi—sang pemuda yang hidup segan, mati tak mau.
“Solving meny, otak lu miring. Bahasa Inggris masih belepotan, enggak usah ngomong Inggris,” tukas Aji menampar kalimat Ogi.
Tak lama berdebat soal bahasa Inggris, Ogi dan Aji sampai di depan rumah makan Thailand yang kata agen Ogi murah.
Rumah makan Thailand ini sangat rombeng, serombeng keuangan anak rantau di akhir bulan. Luas ruangan hanya sepetak 8×8 yang terbagi dua dengan dapur. Catnya sudah dipenuhi jamur. Ruangannya dipenuhi dengan pewangi ruangan yang paling tak mengenakkan—asap dapur. Duduknya pun di lantai beralaskan karpet tipis yang berlapis minyak.
“Mau makan apa kau, Ji?” tanya Ogi sambil melihat-lihat menu beserta harganya.
Ogi dan Aji berbagi satu lembar menu yang sama. Jari mereka menunjuk-nunjuk tulisan asing yang baru kali ini dilihat oleh mata mereka.
“Aku ini saja, pad thai. Stirprayd rais nodles wit eg, bin sprowd, and swit-sawar saus.”
Aji geleng-geleng mendengar celotehan Inggris kampungnya Ogi.
“Ya sudah, aku samain saja,” kata Aji yang tak mau lama-lama memilah makanan.
“Ish, kenapa kau ikut-ikut aku, Ji? Mending beli yang lain biar bisa nyobain menu lain.”
“Malas. Mending kita pilih minuman,” tukas Aji menepis keluhan Ogi.
Aji memilih es green tea, sedangkan Ogi memilih es taro ditambah ekstra boba. Ogi sering kali tak sejalan dengan apa yang ia sabdakan. Ia bilang saving money, tapi memilih minuman yang paling mahal.
Begitulah Ogi, ia sering mencari tempat makan yang murah, lalu memesan yang paling mahal. Ia menyebutnya life hack.
Tak lama, makanan mereka pun datang, disusul minuman yang tadi mereka pesan.
Es taro ekstra boba Ogi sudah sampai lebih dulu. Ogi tak menyentuh makanannya karena pesanan Aji belum datang.
Minuman Aji pun sampai—green tea hangat. Ogi mengernyit melihat pesanan temannya tak seperti yang dipesan.
“Betul itu yang kau pesan, Ji?” tanya Ogi memastikan.
Secangkir green tea hangat sudah tersaji di meja makan mereka, tapi Aji tak mempermasalahkan hal itu.
“Heum, enggak apa-apa. Green tea hangat juga enak malam-malam begini,” ucap Aji.
Melihat temannya yang tidak enakan itu, Ogi ingin beranjak menuju dapur untuk mengganti minuman temannya.
“Jadi orang jangan gak enakan, men. Nanti hidupmu susah, sering dimanfaatkan orang.”
Ogi mengangkat secangkir green tea hangat itu lalu berdiri. Tapi Aji menarik tangan Ogi yang memegang cangkir tersebut.
“Enggak apa-apa, Gi. Green tea hangat enak juga.”
Aji tetap tak ingin minumannya ditukar.
“Aku tak mau menyulitkan mereka. Lagi pula, kalau minuman ini ditukar, nanti minuman ini diapakan?”
“Na, beda kasus, men. Ini salah mereka,” balas Ogi.
Aji menggeleng.
“Aku harap, ketika aku sedang kesulitan, aku bisa bertemu orang-orang kayak aku. Aku tahu mereka mungkin sedang kesulitan di dapur. Lihat saja tempat makan ini, dari sini saja sudah tergambar bagaimana keadaan mereka.”
Di tempat serombeng ini, Aji justru berbicara sebesar dunia.
Ogi terkejut mendengar sabda Aji yang lebih sakti dari sabdanya. Kini Ogi luluh. Ia kembali duduk bersama Aji dan menyerahkan secangkir green tea hangat itu kembali ke tangannya.