Perempuan di Bawah Ayunan Kapak

Perempuan di Bawah Ayunan Kapak

Oleh: Hirein Assabil

 

Perempuan kerap disebut sebagai tulang punggung peradaban. Dari rahimnya lahir generasi, dari pikirannya tumbuh gagasan, dari ketegasannya berdiri nilai. Tetapi gelar itu bukan sekadar pujian yang manis didengar, ia adalah tanggung jawab yang berat dipikul.

 

Insiden yang terjadi pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, menjadi ironi yang sulit diterima akal sehat. Pagi yang semula cerah, dengan langkah-langkah mahasiswa yang bergegas menuju ruang sidang, mendadak berubah menjadi kepanikan. Lorong akademik yang seharusnya dipenuhi diskusi dan persiapan presentasi, tercatat dalam sejarah sebagai saksi genangan darah. Emosi yang tak terbendung dari seorang lelaki berinisial R berakhir dengan mendaratnya kapak ke tubuh Faradilla Ayu Pramesti. Di ruang yang seharusnya aman bagi orang-orang yang mencari ilmu, darah justru lebih dulu berbicara.

 

Kita bisa menyebutnya sebagai “kapak asmara”, metafora dari kegagalan kedewasaan emosional. Namun faktanya, itu bukan sekadar metafora. Itu benar-benar kapak. Dan tubuh yang terluka bukan simbol, melainkan manusia.

 

Pertanyaan yang tak bisa dihindari pun muncul: adakah alasan yang membenarkan ini terjadi? Jawabannya tegas: tidak ada.

 

Di satu sisi, banyak pemberitaan menyoroti pelaku yang bertindak karena amarah akibat penolakan. Di sisi lain, ruang publik mulai ramai membicarakan komitmen yang kabur, kedekatan yang melibatkan fisik dan materi, serta hubungan yang tidak didefinisikan dengan jelas. Narasi perlahan bergeser dari tindakan kriminal menuju pembahasan relasi personal.

 

Di sinilah kita harus berhati-hati.

 

Relasi tanpa kejelasan memang berbahaya. Kedekatan tanpa komitmen dapat melahirkan ilusi kepemilikan. Ketika seseorang merasa telah “berinvestasi” secara emosi, waktu, bahkan materi, ia bisa terjebak dalam perasaan berhak memiliki. Ambiguitas sikap, tarik-ulur perhatian, dan batas yang dibiarkan kabur dapat memantik obsesi pada pribadi yang butuh kejelasan. Namun luka emosional tidak pernah boleh dibalas dengan darah.

 

Kesalahan dalam mengelola relasi (andaikan itu benar terjadi) tetap berada di wilayah moral dan komunikasi. Sementara pembacokan adalah wilayah hukum, kejahatan, dan kekerasan yang tidak memiliki pembenaran apa pun. Mencampuradukkan keduanya adalah kekeliruan berpikir yang berbahaya.

 

Lalu bagaimana perempuan menjaga gelar “tulang punggung peradaban” itu agar tidak terciderai?

 

Pertama, dengan menjaga batas.


Kehormatan tumbuh dari kejelasan. Ketegasan bukan berarti sombong, dan menjaga jarak bukan berarti angkuh. Justru di sanalah letak kematangan.

 

Kedua, dengan kejelasan komitmen.


Kedekatan fisik, perhatian intens, dan pertukaran materi dalam relasi yang tidak memiliki arah hanya membuka ruang tafsir yang berbahaya. Bukan karena perempuan bertanggung jawab atas emosi lelaki, tetapi karena setiap manusia bertanggung jawab atas sinyal yang ia kirimkan.

 

Ketiga, dengan menyadari bahwa cinta bukan transaksi.


Pemberian tidak pernah otomatis menjadi tiket kepemilikan. Namun membiarkan relasi berjalan dalam abu-abu sering kali menumbuhkan perasaan memiliki pada pihak yang tidak siap menerima penolakan.

 

Di sisi lain, laki-laki pun memikul tanggung jawab yang sama besar: belajar menerima penolakan dengan bermartabat. Maskulinitas yang matang bukan diukur dari kemampuan memiliki, tetapi dari kemampuan menahan diri ketika tidak dimiliki.

 

Tragedi ini bukan hanya tentang satu pelaku dan satu korban. Ia adalah cermin tentang bagaimana kita memaknai cinta, batas, ego, dan kepemilikan. Ketika cinta dilepaskan dari nilai, ia berubah menjadi posesivitas. Ketika penolakan dianggap penghinaan, ia berubah menjadi dendam. Ketika batas diabaikan, yang runtuh bukan hanya relasi, tetapi martabat.

 

Perempuan sebagai tulang punggung peradaban tidak hanya diuji saat berdiri di podium akademik atau meraih gelar sarjana. Ia diuji saat menentukan sejauh mana orang lain boleh masuk ke wilayah pribadinya. Dan laki-laki diuji saat ia menerima bahwa tidak semua yang ia inginkan harus menjadi miliknya.

 

Kapak itu mungkin diayunkan oleh satu tangan. Tetapi pelajaran yang lahir darinya adalah milik kita semua.

Perempuan di Bawah Ayunan Kapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *