Ngabuburite for Aqsa: Ustaz Husein Gaza Tekankan Pentingnya Kesadaran Umat terhadap Isu Palestina

Ngabuburite for Aqsa: Ustaz Husein Gaza Tekankan Pentingnya Kesadaran Umat terhadap Isu Palestina

ksmrmesir.org—Ahad (22/2), International Networking for Humanitarian (INH) sukses menggelar acara NGABUBURITE FOR AQSA: Talkshow and Public Lecture di Qoah Burj, Nadi Sikka, Kairo, dengan menghadirkan Ustaz Husein Gaza, Lc., sebagai pemateri.

 

Dalam pembukaannya, Ustaz Husein mengingatkan peran umat Muslim saat ini, yaitu membangun kesadaran. Mengutip perkataan guru beliau, Syeikh Abdur Rohim Al-Jisani, ia mengatakan, “Pedang kita sebanyak apa pun, jet tempur sebanyak apa pun, kalau otak kita belum terbebas dari penjajahan zionis, maka tidak ada gunanya satu pun peluru yang kita miliki.”

 

Selanjutnya, beliau menjelaskan alasan mengapa zionis ingin menjajah Palestina dari segi geostrategis. Ia mengungkapkan bahwa Palestina berada di lokasi yang sangat strategis, yaitu di antara tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Palestina yang berada di benua Asia berbatasan dengan Mesir di benua Afrika. Selain itu, Mesir dan Palestina berbagi laut yang sama, yaitu Laut Mediterania, yang jika ditarik lurus terhubung hingga daratan benua Eropa.

 

Beliau juga menyayangkan banyak akademisi yang gagal memahami akar masalah Palestina. Ia mengatakan, “Banyak yang masih mengira masalah Palestina adalah perebutan wilayah antara Palestina dan Israel, sehingga lahirlah solusi dua wilayah. Kalau hal yang fundamental saja sudah keliru, maka solusinya pun keliru.”

 

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip pernyataan Ismail Haniyah pada muktamar internasional tahun 2021 yang mengungkap dua hal yang dapat mengubah cara pandang kita.

 

Pertama, masalah di Palestina bukanlah masalah perbatasan, melainkan konflik eksistensi. Israel bukan negara yang lahir secara natural seperti Indonesia. Sebelum proklamasi, warga Indonesia sudah ada sebagai penduduk asli, sedangkan warga Israel awalnya adalah orang-orang yang diizinkan tinggal, lalu mengklaim diri sebagai penduduk lokal.

 

Dalam bukunya, Profesor Abdul Fattah Ad-Duwaisi menyatakan,“Israel bukanlah negara, tetapi proyek kolonial, imperial, salibis, Barat, dan strategis.”

 

Hal ini, menurutnya, dapat dibuktikan ketika peristiwa Tufanul Aqsa pada 7 Oktober 2023 terjadi. Saat zionis Israel diguncang oleh pejuang Gaza, berbagai negara Barat seperti Italia, Spanyol, Jerman, Kanada, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat segera memberikan dukungan logistik dan militer untuk memperkuat Israel.

 

Oleh karena itu, permasalahan Palestina tidak bisa dianalogikan dengan perjuangan Indonesia melawan Belanda. Indonesia berhadapan satu lawan satu dengan Belanda, sedangkan Palestina menghadapi banyak negara Barat sekaligus.

 

Kedua, ia menegaskan bahwa umat Islam bukan sekadar bersolidaritas, tetapi merupakan korban langsung dari penjajahan tersebut. Menurutnya, tujuan utama Israel adalah mencegah kebangkitan peradaban Islam.

 

Ustaz Husein juga menceritakan bahwa dirinya merupakan korban selamat dari tiga agresi besar di Gaza: 2012, 2021, dan genosida 2023. Ia menyaksikan langsung bagaimana roket F-16 membombardir rumah-rumah dan tenda-tenda di hadapannya.

 

Namun, ketika ia keluar dari Gaza, ia justru melihat bentuk perang yang lebih mengerikan. Ia mengatakan, “Kalau roket-roket zionis menghancurkan gedung-gedung dan merenggut nyawa, maka roket-roket ideologi Amerika membombardir para pemuda Muslim di luar Gaza. Mereka tidak mati, tetapi hidup seperti zombi—tubuhnya bergerak tanpa arah, tanpa visi dan misi. Mereka hidup, tetapi rusak, dan merusak yang lain.”

 

Ia juga menyoroti fenomena sosial di Indonesia yang menurutnya merupakan dampak dari “roket ideologi”, seperti budaya pacaran, anak kecil merokok, judi online, dan pornografi. Hal-hal tersebut, menurutnya, tidak terjadi secara natural, melainkan secara sistematis.

 

Berbeda dengan di Gaza, banyak anak muda di sana sudah sadar dan bersiaga dengan menjaga Al-Qur’an, menghafalnya, serta menjalani latihan militer. Sementara itu, bahaya “roket ideologi” tidak membunuh, tetapi membuat anak-anak muda tertidur pulas.

 

Ia menutup dengan sebuah pernyataan, “Keberhasilan puncak sebuah penjajahan bukanlah ketika mereka berhasil membumihanguskan musuhnya, tetapi ketika mereka berhasil meyakinkan korbannya bahwa mereka sedang tidak terjajah.”

 

Reporter: Alya Shovia

Editor: Yahyo Lincoln

Ngabuburite for Aqsa: Ustaz Husein Gaza Tekankan Pentingnya Kesadaran Umat terhadap Isu Palestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *