Langkanya Uang Receh di Mesir dan Urgensi Pecahan 2 Pound
Oleh: Hirein Assabil
Ksmrmesir.org — Dalam kehidupan sehari-hari, hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada transaksi uang. Di Mesir, baik warga lokal maupun pendatang menggunakan pound Mesir (EGP) sebagai alat tukar utama. Secara sistem, mata uang ini memiliki pecahan yang beragam. Namun dalam praktik di lapangan, persoalan justru muncul pada hal yang tampak paling kecil: ketersediaan uang pecahan.
Bagi mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) situasi ini bukan hal asing. Perjalanan singkat menggunakan transportasi umum dari Masyaihoh menuju Sayyidah Aisyah—misalnya, sering mematok ongkos sekitar tujuh pound. Ketika penumpang membayar dengan uang sepuluh pound, pengemudi biasanya meminta tambahan dua pound agar bisa mengembalikan lima pound secara genap. Namun ketika penumpang tidak memiliki pecahan tersebut dan pengemudi juga tidak memegang uang receh, kembalian satu pound sering kali hilang begitu saja.
Sekilas, satu pound tampak sepele. Tetapi jika dalam satu kendaraan terdapat beberapa penumpang dengan pengalaman serupa, selisih kecil itu perlahan berubah menjadi jumlah yang berarti. Bagi masisir yang hidup dengan pengeluaran terbatas, selisih kecil seperti ini tetap masuk dalam hitungan harian yang menentukan keseimbangan pengeluaran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah uang receh bukan sekadar persoalan kecil dalam transaksi, melainkan bagian dari kelancaran sistem ekonomi sehari-hari. Tanpa pecahan yang memadai, praktik pembulatan nilai transaksi cenderung menjadi kebiasaan. Dalam banyak kasus, pembulatan itu tidak selalu terjadi secara sadar atau disengaja, tetapi dampaknya tetap sama—ada pihak yang tidak menerima nilai yang seharusnya menjadi haknya.
Jika dilihat lebih luas, keberadaan uang pecahan kecil sebenarnya merupakan praktik umum dalam sistem moneter di berbagai negara. Di Indonesia, misalnya, uang beredar dalam pecahan kertas mulai dari Rp1.000 hingga Rp100.000, dilengkapi dengan uang logam bernilai kecil seperti Rp100, Rp200, Rp500, dan Rp1.000 untuk menjaga presisi transaksi harian. Negara lain juga mempertahankan prinsip yang sama. Amerika Serikat memiliki cent sebagai pecahan terkecil, Jepang mempertahankan koin satu yen, sementara negara-negara Eropa menggunakan euro coin bernilai kecil untuk kebutuhan transaksi mikro. Keberadaan pecahan tersebut bukan sekadar formalitas moneter, melainkan mekanisme ekonomi yang menjaga agar setiap transaksi berlangsung tepat nilai.
Namun di banyak tempat, uang receh memang cenderung jarang beredar secara aktif. Salah satu sebabnya adalah biaya produksi yang relatif tinggi dibanding nilai uang itu sendiri. Selain itu, perilaku masyarakat juga berpengaruh. Uang receh sering kali disimpan di rumah, di laci, atau dianggap tidak terlalu penting sehingga tidak kembali ke sirkulasi. Inflasi juga membuat nilai pecahan kecil terasa semakin tidak signifikan dalam persepsi masyarakat. Akibatnya, meskipun secara statistik uang tersebut masih ada, dalam praktik sehari-hari ia terasa langka.
Meski demikian, kelangkaan uang receh tetap menyisakan persoalan nyata dalam transaksi kecil. Tremco, baalah, hingga pasar tradisional adalah ruang ekonomi mikro yang bergantung pada presisi nilai pembayaran. Tanpa pecahan kecil, transaksi menjadi tidak akurat dan pembulatan nilai menjadi kebiasaan yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Di sinilah letak urgensi persoalan ini. Sistem moneter yang sehat tidak hanya diukur dari stabilitas nilai mata uang atau besarnya transaksi ekonomi makro, tetapi juga dari kelancaran transaksi kecil yang terjadi setiap hari. Ketika nilai kecil terus-menerus diabaikan, maka keadilan dalam transaksi juga perlahan tergerus.
Karena itu, pemerintah Mesir melalui otoritas moneter seharusnya melihat persoalan ini sebagai kebutuhan riil di lapangan. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperbanyak, bahkan menerbitkan kembali pecahan dua pound dalam jumlah yang memadai. Pecahan ini berada pada posisi yang strategis dalam transaksi harian—tidak terlalu kecil untuk diabaikan, tetapi cukup fleksibel untuk menutup selisih pembayaran yang sering terjadi di tremco, maupun perdagangan kecil.
Langkah ini tentu bukan satu-satunya solusi, tetapi dapat menjadi langkah praktis untuk mengurangi persoalan yang terus berulang dalam transaksi sehari-hari. Jika satu pound terus-menerus hilang dari tangan banyak orang setiap hari, maka yang kecil itu diam-diam berubah menjadi kerugian kolektif.