Langit yang Tak Sempat Mereka Sentuh
Oleh: Muhammad Riski Maulana
Pagi di rumah itu selalu datang lebih dulu. Bukan lewat matahari, namun lewat suara dapur yang tak berisik—cetekan kompor gas, adukan sendok di dalam gelas, dan hentak kaki yang sengaja ditahan agar tak membangunkan orang rumah. Di balik pintu kamar yang tak tertutup sempurna, seorang anak perempuan masih terlelap, memeluk tidur yang belum sempat bermimpi jauh.
Ibunya sudah bangun. Rambutnya disanggul seadanya, baju rumahya sama seperti kemarin. Uap nasi mengepul perlahan, bercampur aroma kopi hitam yang pahit. Wajahnya datar, nyaris tak berekspresi, bukan karena tak punya perasaan, melainkan karena pagi memang harus segera diselesaikan. Di dinding dapur tak ada ijazah, tak ada foto wisuda—hanya kalender lama dan jam tua yang dengan setia berdetak, seakan jam itu mengingatkan bahwa waktu tak bisa menunggu siapapun.
Ayah biasanya keluar rumah lebih awal. Baju lusuhnya dilipat rapi, meski lipatannya tak pernah benar-benar lurus. Ayah jarang bicara. Jika bicara pun seperlunya saja. Selebihnya, ia memilih bekerja dan diam. Anak itu mengenal ayahnya sebagai punggung yang pergi subuh dan pulang ketika warna langit mulai memudar.
Setiap harinya berjalan dengan template yang hampir sama. Anak itu tumbuh dengan seragam sekolah yang selalu bersih, sepatu yang disemir tiap akhir pekan, dan kotak bekal sederhana yang tak pernah kosong. Di sekolah, ia duduk di bangku paling depan. Matanya rajin mengikuti papan tulis, seakan huruf dan angka adalah teman ternyaman baginya.
Setiap akhir semester, namanya dipanggil. Peringkat pertama. Ia pulang membawa selembar kertas kecil dengan angka-angka yang besar. Ibunya menerima kertas itu, membacanya dengan teliti, lalu menyimpannya di laci. Ayah hanya mengangguk singkat—tidak ada perayaan, tapi tak ada juga kekecewaan.
Anak itu tahu bahwa ibunya dulu pun sering pulang membawa peringkat yang sama. Ia tak pernah mendengar cerita bagaimana guru-guru menyayangkan langkah ibunya yang berhenti di sekolah dasar. Yang ia tahu, ibunya cerdas. Hal itu terbukti dari cara ibu mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung.
Dulu, ibunya memutuskan putus sekolah bukan karena kalah. Ia berhenti karena harus memilih. Adik-adiknya masih kecil, kakek dan nenek harus bekerja demi makan sehari-hari. Jika ia melanjutkan sekolah, adik-adiknya mungkin tak sempat belajar apa-apa. Maka ia mengalah, tanpa penghargaan, tanpa janji dan jaminan bahwa suatu hari akan kembali.
Suatu sore, hujan turun deras. Anak itu mengerjakan PR di meja belajar dekat jendela. Air jatuh ke genting, tetes demi tetes, seperti ejaan yang tak kunjung selesai. Di sudut bukunya, ia menggambar langit dan dirinya sendiri di bawahnya. “Ibu,” katanya palan, “kalau besar nanti aku bisa jadi apa saja, kan?” Ibunya berhenti mengepel. Ia menoleh, menatap buah hatinya agak lama, seolah memastikan sesuatu yang tak terucap. Kemudian tersenyum kecil. “Bisa,” jawabnya. “Jadilah apa pun, Nak.” Tak ada kalimat panjang. Tapi cukup memberikan rasa aman bagi anak itu.
Ayah mendengar dari jauh. Ia tak ikut bicara. Hanya berdiri sebentar, lalu kembali pada tontonannya. Diam ayah adalah cara lain untuk mengatakan setuju.
Waktu berjalan tanpa menunggu izin. Anak itu tumbuh, remaja, lalu dewasa. Ia pergi belajar jauh dari rumah, membawa tas yang lebih berat dari sebelumnya. Kota-kota baru ia kenal, langit-langit asing ia pandangi dari jendela kamar sewaan. Kadang ia lelah, kadang ingin menyerah, tapi selalu ada bayangan dapur kecil dan aroma kopi pahit yang mencegahnya.
Ketika akhirnya ia pulang, rumah itu masih sama, tak ada yang berubah. Ibunya kini lebih sering duduk, ayahnya lebih sering diam. Waktu rupanya tetap menagih, bahkan pada mereka yang telah memberi segalanya. Ia berdiri lama di ambang pintu. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa berat. Ia memeluk ibunya, lalu ayahnya, lebih lama dari biasanya. Tak ada kata-kata besar. Tak ada air mata yang dipaksa keluar.
Malam itu, ia duduk sendirian di teras rumah. Menatap langit yang dulu hanya bisa ia gambar. Kini terasa dekat, tapi juga penuh beban. Ia akhirnya mengerti, ada orang-orang yang memilih berhenti, agar anak-anaknya bisa melangkah lebih jauh. Dan langit yang kini ia kejar, adalah langit yang tak sempat mereka sentuh.