Kapan kamu datang?

Penulis: Khadijah Buma
Editor: Muhammad Albar

Hari pertama.

“Hey, aku tunda dulu ya, nggak jadi ke tempat kamu hari ini, mau bantu teman rumahku dulu,” izinku padanya.
“Tak apa, aku bisa menunggu besok,” balasnya ramah.

Hari ketiga.

“Maaf kemarin aku sibuk seminar, hari ini aku harus menyelesaikan rekapan, aku tunda dulu kunjungannya tak apa?” Pintaku melas.
“Baiklah, masih ada waktu lain,” ia menjawab dengan baik.

Hari ketujuh.

“Kerjaan di organisasi terlalu banyak, aku habiskan semua waktuku untuk menyelesaikannya, esok, lusa, dan esok lusa, aku akan sibuk dengan tugas kuliahku, setelah itu, aku janji akan datang ya?” Sesalku.
“Kabari saja jika kau di jalan.” Aku membuatnya menunggu.

Hari kesebelas.

“Aku minta maaf kemarin tidak tepat janji, sekarang aku sedang di jalan menuju dirimu.” Aku akui, aku bersalah.
Tak ada jawaban darinya.

Hari ini.

Aku tiba dengan tergesa-gesa, merasa bersalah aslinya, tapi kupikir, dia pasti bisa memahami kesibukanku yang segudang. Dengan tenang kubuka pintu, mendapati dirinya termenung di dekat jendela.

“Hey..” sapaku.

Ia menoleh, namun tidak menjawab.

“Baiklah, aku bersalah, aku minta maaf.” Aku mengalah dan mengaku.

Dia masih tak menjawab, diam membisu. Aku menghela napas dan mengambil duduk di dekatnya.

“Apa bagimu aku tidak penting?” Ujarnya pada akhirnya.

“Bukan begitu, tapi kau tahu aku juga punya banyak kepentingan, banyak yang perlu kuurus,” jelasku sebaik mungkin.

“Lalu aku bukan bagian dari kepentinganmu yang perlu kau urus?” Tanyanya lagi, dari nadanya tergambar jelas emosi.

“Jangan berlebihan.” Aku menghentak napas kasar. “Memangnya kau siapa? Haruskah kuutamakan? Haruskah semuanya tentangmu?” Aku mengomel, menegakkan badan, memaksa dia mengerti.

Ia mengernyit dan tercengang tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca. “Menurutmu, aku layak untuk diakhirkan?”

Beberapa kali ia mengulang pertanyannya. Suaranya mulai membuatku merasa pusing, sekelebat perasaan berputar-putar di kepalaku, aku kembali terduduk lemas.

“Memangnya kau siapa?” Tanyaku lagi dengan sisa tenaga yang kupunya.

Tangisnya pecah, dengan nada tidak percaya, ia menjawab, “aku adalah kamu.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *