Ilalang dan Bunga: Potret Keresahan dan Kritik Sosial Masisir

Ksmrmesir.org—Rilis dan bedah novel Ilalang dan Bunga karya Ihya digelar oleh Pena Darussalam (Pendar) bersama Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) pada Jumat, 13 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua pembedah, Naila Fauziah dan Lalul Azmil, yang mengulas karya tersebut dari perspektif kritik sastra dan realitas sosial.
Dalam pemaparannya, Lalul Azmil menyampaikan bahwa ketika idealisme dibatasi, sastra justru menjadi medium paling lentur untuk menyuarakan kegelisahan. Menurutnya, novel ini mengangkat realitas sosial melalui pendekatan naratif yang dipenuhi simbol dan subteks, menghadirkan kritik yang tidak meledak-ledak, tetapi mengendap dan tajam.
Karya tersebut memotret berbagai keresahan yang mengemuka di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir), mulai dari fenomena membludaknya jumlah mahasiswa hingga persoalan keberangkatan melalui mediator bodong.
Dalam forum diskusi, pembedah mencontohkan bentuk teks satir sebagai cara membaca kritik terhadap otoritas dan pragmatisme. Salah satu ilustrasi yang disampaikan berbunyi, “Jangan cabut bunga itu, itu bukan milik Tuhan. Itu milik pemerintah.” Ungkapan tersebut dipaparkan sebagai gambaran satir atas relasi kuasa dan pembatasan, bukan sebagai kutipan literal dalam novel. Contoh lain yang mengemuka adalah sindiran tentang idealisme yang “dikalahkan dengan semangkok bakso”, sebagai refleksi atas kecenderungan pragmatisme.
Bagi Ihya, Ilalang dan Bunga merupakan buku pertamanya. Namun, karakter Seruni yang menjadi sentral cerita bukanlah sosok baru dalam proses kreatifnya. “Saya sudah punya karakter Seruni ini sejak 2023,” ungkapnya. Ia mengajak pembaca melihat karya ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi dan latihan berpikir kritis.
Dalam sesi penutup, Ihya menekankan pentingnya disiplin dalam menulis. “Jangan menunggu mood. Kalau menunggu mood, tulisan tidak akan jadi. Ada saatnya kita menulis sejujur-jujurnya, sementok-mentoknya. Dari pembiasaan itu, justru mood akan mengikuti,” tuturnya.
Ia juga mengakui bahwa proses penulisan novel perdananya penuh ketidaksempurnaan. “Saya menikmati proses kegagalan. Saya menulis sampai menemukan apa yang sebelumnya tidak saya tahu,” katanya. Baginya, ketika buku telah sampai ke tangan pembaca, cerita tersebut tak lagi sepenuhnya menjadi milik penulis. “Sampai di tangan kalian, cerita ini bukan lagi milik saya, tapi milik kita bersama.”
Diskusi semakin dinamis ketika salah satu peserta menyoroti kecenderungan pembaca yang lebih menyukai hal-hal praktis ketimbang teoretis. Ia menilai karya sastra yang baik bukanlah yang menggurui, melainkan yang mengajak pembaca berpikir dan merasakan.
Melalui Ilalang dan Bunga, Ihya menghadirkan sastra sebagai ruang refleksi sekaligus keberanian menyuarakan realitas.
Reporter: Raihana Salsabila
Editor: Yahyo Lincoln