Hari Raya yang Tak Lagi Sama

Hari Raya yang Tak Lagi Sama

 

Oleh: Desma Utari

 

Dulu, hari raya selalu datang dengan kehangatan yang tak perlu diragukan.

 

Suara takbir di pagi hari terdengar hingga ke rumahku, aroma rendang daging yang selalu menjadi menu utama, gorden baru yang terpasang di depan kamar, serta canda tawa yang memenuhi ruang tamu kala itu.

 

Sebuah tempat sederhana yang melahirkan kehangatan dengan caranya sendiri. Aku mulai menyadari betapa indahnya masa-masa itu. Namun, keadaan perlahan mengubah segalanya.

 

Tahun ini, tak lagi kurasakan kehangatan rumah seperti dulu. Semuanya berubah. Di sini, segalanya terasa berbeda—masjid yang megah, dan begitu banyak wajah asing yang kutemui. Namun, ini bukan tentang kemewahan, melainkan tentang kehangatan yang kucari di dalamnya.

 

Bukan berarti aku tak bersyukur. Hanya saja, aku belum terbiasa dengan semua ini. Aku masih merindukan rumah—tempat di mana ada mereka, keluarga dan teman-teman lama yang kusayangi. Aku merindukan suasana yang dulu melengkapi indahnya hari raya.

 

Mungkin hari ini aku masih merasa asing. Namun, aku percaya—suatu saat nanti aku akan kembali menemukan kehangatan, meski dalam bentuk yang berbeda, bersama orang-orang baru yang hadi di hidupku.

 

Hari raya ini mungkin tak lagi sama. Namun, dari perbedaan itu—aku belajar bahwa kehilangan mampu mengajarkan arti kebersamaan. Bahwa hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa, justru menjadi sangat berharga ketika jarak dan waktu memisahkan.

 

Hari Raya yang Tak Lagi Sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *