Esensi Hidup Sampai Mati
Ksmrmesir.org — Apa sebenarnya tujuan hidup seorang manusia? Apakah cukup sekadar belajar, bekerja, lalu mati?
Sebelum-sebelumnya pertanyaan ini tenggelam di kepalaku—tapi mulai terpercik kembali ketika diri ini menghadiri acara International Networking for Humanitarian minggu lalu.
Suatu momen ketika Ustaz Husein Gaza menunjuk satu orang audiens untuk ditanyakan sebuah pertanyaan sederhana; apa tujuan kamu datang ke Mesir? Lantas audiens tersebut berdiri, lalu dengan gagahnya menjawab; saya datang ke Mesir ingin menjadi kiai, lalu membangun pesantren di Indonesia.
Sontak jawaban tersebut mendapat tepuk tangan. Memang jawaban tersebut sekilas sangat menyilaukan—seakan masa depan cerah terlihat dari anak bangsa.
Tapi, Ustaz Husein Gaza menepis—menampar kesilauan jawaban tersebut. Beliau mengatakan; kita sebagai seorang Muslim harus memiliki set goal yang lebih besar dari sekadar menjadi kiai lalu mendirikan pesantren.
Menurutnya, menjadi kiai lalu mendirikan sebuah pesantren adalah nilai yang sangat kecil jika dijadikan sebagai tujuan hidup kita.
Aku setuju dengan apa yang dikatakan Ustaz Husein. Seorang manusia—apalagi seorang Muslim, memang seharusnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada itu.
Tanpa mengecilkan kiai di Indonesia, aku akui apa yang mereka lakukan memang sangat berjasa bagi pendidikan generasi. Tapi, satu hal yang salah—menjadi kiai dan membangun pesantren akan menjadi salah ketika menjadi tujuan belajar dan juga tujuan hidup.
Seorang Muslim tak seharusnya hidup dengan tujuan yang berhenti di dunia—tetapi seharusnya dengan visi besar yang melampaui kematian.
Di mataku saat ini ketika memandangi lingkungan sekitar, masih banyak sekali seorang Muslim yang masih meletakkan tujuan “cetek” sebagai akhir dari hidupnya. Contoh yang bisa kutangkap: menjadi pro player, menikahi idol, menjadi orang kaya, menjadi pejabat, dan lain-lain.
Apakah salah menjadi pro player sebuah game? Apakah salah ketika kita menikahi seorang idol? Apakah salah menjadi orang kaya? Apakah salah menjadi pejabat? Kau bisa menilainya sendiri, Kawan.
Sudah kau nilai? Apa jawabanmu? Kalau sudah mendapatkan jawaban, lantas apa yang bisa membuat orang lain tetap ingat ketika engkau mati?
Mari kita lihat kasus di Indonesia; kebanyakan orang yang menjadikan hal remeh sebagai target terbesar di hidupnya, lalu kehilangan hal tersebut, maka ia akan mati. Dengan seribu bahasa kiasan—ia akan mati.
Menempatkan hal-hal duniawi seperti itu akan sangat berbahaya. Mengapa? Bayangkan ketika kau tak dapat, bayangkan ketika hal itu diambil, bayangkan ketika hal tersebut kau taruh menjadi tujuan akhir dari hidupmu.
Sebagai contoh: seseorang menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir hidupnya. Ia belajar mati-matian, bekerja mati-matian—lalu ia tak mendapatkannya. Apa yang akan ia lakukan? Seminimal-minimalnya akan depresi berat.
Tapi, bagaimana jika aku dapat?
Ketika hal itu kau capai. Selamat, Kawan, selamat. Lalu kau mati, apa yang membuatmu dikenang? Apa artinya hidupmu?
Sebagai seorang pengamat, aku merasa fenomena ini sangat berbahaya—apalagi bagi seorang Muslim. Menjadikan hal-hal duniawi sebagai puncak akhir kehidupan. Lalu mati tanpa meninggalkan apa-apa.
Baiklah, setelah ini aku akan fokus berzikir saja, baca Al-Qur’an saja, karena menurut tulisan ini—sebaik-baik tujuan hidup adalah akhirat.
Jangan. Hidup mengejar akhirat saja tanpa mengambil porsi dunia juga salah.
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Al-Qur’an tak pernah melarang dunia, tapi prioritasnya akhirat. Dunia itu alat, dan bukan akhir dari tujuan. Silakan saja ketika ingin menjadi seorang kiai, tetapi ingat—jangan menjadikan itu tujuan akhir.
Dengan tulisan ini, aku ingin menyampaikan beberapa keresahan yang menyarang di kepalaku—sekaligus ingin berbagi keresahan dan insyaAllah akan memberikan manfaat kepada pembaca.
Silakan jika ingin menjadi pro player. Silakan jika ingin menikahi seorang idol. Silakan jika ingin menjadi orang kaya—tetapi ingat, coba pikirkan visi besar yang mendasari hal tersebut. Coba berpikir melampaui diri sendiri, lalu pasang kuat-kuat tujuan hidup kita—bahwa kita harus hidup untuk sesuatu yang lebih panjang dari hidup kita.
Sebagai contoh untuk diri kita sebagai seorang pelajar di Al-Azhar. Jangan jadikan menjadi kiai lalu membangun bisnis pesantren sebagai tujuan akhir hidup kita. Kita bisa mengubahnya ke sesuatu yang lebih besar—dakwah misalnya. Tapi dakwah seperti apa?
Apakah sekadar berdiri di mimbar, lalu menyampaikan ceramah? Ataukah membangun generasi yang mampu berpikir, yang tidak mudah goyah oleh zaman, yang mampu membawa nilai Islam ke dalam setiap lini kehidupan?
Bayangkan jika tujuan kita bukan sekadar “menjadi kiai”, tetapi menjadi bagian dari perubahan umat. Membangun sistem pendidikan yang melahirkan pemimpin, melahirkan pemikir, melahirkan manusia-manusia yang tak hanya saleh secara pribadi, tapi juga kuat dalam memberi dampak.
Di titik ini, menjadi kiai bukan lagi tujuan—melainkan alat. Semua kembali pada satu hal: apa dampak besar yang ingin kita tinggalkan?
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang sekadar belajar, lalu bekerja, lalu mati. Tapi hidup kita juga harus dinilai dari seberapa kita tetap hidup walaupun raga kita sudah mati. Mari! Buat hidup kita sebagai seorang Muslim menjadi berarti.
One Response
Keren