Di Balik Jendela Berdebu

Di Balik Jendela Berdebu

 

Oleh: Lidia Arista

 

Lampu meja yang temaram menjadi satu-satunya saksi bisu. Di luar, suara hiruk-pikuk kota pelan-pelan mereda, berganti dengan kesunyian yang mencekam. Di atas meja, selembar kertas putih masih bersih, seolah mengejek jemari yang gemetar namun tak kunjung menari.


Ada sebuah lubang di ulu hati yang tak kasat mata. Ia tidak berdarah, tapi rasanya perih setiap kali napas ditarik terlalu dalam. Sakit itu bukan datang dari benturan fisik, melainkan dari kata-kata yang mati di ujung lidah, dari rindu yang salah alamat, dan dari ekspektasi yang pelan-pelan membusuk karena tak pernah terwujud.


“Kamu baik-baik saja?” tanya seorang teman melalui pesan singkat yang muncul di layar ponsel.


Jari itu bergerak cepat, mengetik jawaban yang sudah menjadi refleks otomatis: “Iya, cuma sedikit capek.”
Satu kalimat itu adalah kebohongan paling tulus yang pernah dibuat. “Capek” adalah kode rahasia untuk “aku sedang hancur, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya padamu tanpa membuatmu merasa terbebani.”


Ia teringat bagaimana setiap malam dirinya menyusun narasi di kepala, tentang betapa sesaknya menjadi tempat bersandar bagi semua orang, sementara dirinya sendiri tidak punya bahu untuk bersandar. Namun, begitu fajar menyingsing, narasi itu ia lipat rapi-rapi dan ia simpan di laci paling bawah memorinya.


Bagi dunia, ia adalah sosok yang teguh. Bagi cermin di kamar mandi saat pukul dua pagi, ia hanyalah seorang manusia yang sedang memeluk lututnya sendiri, berusaha meredam isak agar tidak melewati celah pintu.


Rasa sakit yang tak diceritakan itu seperti air yang menetes di atas batu—pelan, konsisten, dan mematikan. Ia tidak menghancurkan seketika, tetapi ia mengubah bentuk jiwa menjadi sesuatu yang asing, bahkan bagi pemiliknya sendiri.


Malam itu, ia kembali mematikan lampu. Kertas di meja tetap kosong. Karena terkadang, ada beberapa luka yang terlalu sakral untuk dijadikan kata-kata, dan terlalu dalam untuk sekadar dibagi. Ia memilih untuk membiarkan sakit itu tetap menjadi rahasia, sebuah melodi sunyi yang hanya dimengerti oleh detak jantungnya sendiri.

Di Balik Jendela Berdebu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *