Bumi

Oleh: Lidia Arista
Pada 1 November 2024 lalu, aku berdiri terpana melihat bumi yang tampak begitu hijau dan asri di lereng Gunung Merapi.
Di hadapanku ada pemandangan Gunung Singgalang yang terasa begitu besar, hamparan persawahan, serta kebun-kebun warga yang kaya akan aneka sayuran. Aku seolah terpaku, tak sedetik pun aku sanggup berpaling dari kemegahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
Angin pegunungan yang sejuk membelai wajah, membawa aroma kesegaran daun yang tak akan pernah bisa ditemukan di kota-kota besar. Seketika terlintas di benak ini—betapa indahnya jika bumi ini tetap bernapas tanpa sesak oleh gedung-gedung tinggi, seperti pemandangan di pulau seberang yang kian gersang oleh beton.
Ada rasa damai yang merayap di dada saat melihat alam yang masih murni. Namun, di balik rasa kagum itu, terselip kegelisahan tentang masa depan. Ada harapan-harapan sederhana namun bermakna untuk tanah air tercinta, yaitu:
-
- Banyaknya pohon ditanam daripada tiang, agar anak cucu kita masih menghirup oksigen yang bersih.
-
- Aku berharap masyarakat peduli terhadap sesama tanpa harus memandang kasta, harta, apalagi jabatan.
-
- Kemajuan zaman seharusnya tidak membunuh akar alam kita.
Sambil menatap puncak Gunung Singgalang yang sesekali tertutup oleh kabut tipis, aku berbisik pada semesta. Semoga keindahan ini terus berlanjut sampai kapan pun, tanpa adanya gangguan beton-beton, melainkan tanah subur dan hati yang penuh empati.