Batas yang Perlahan Menghilang
Oleh: M. Iqbal Danial Haq
Sore itu, kampus ramai seperti biasa. Tapi entah kenapa rasanya berbeda. Banin dan banat duduk bersama, tertawa dan mengobrol santai—seolah tidak ada jarak sama sekali. Aku hanya berdiri di pinggir, tidak ikut duduk, tidak juga pergi—hanya memperhatikan. Soalnya aku ingat, dulu tidak seperti ini.
Dulu ada batas, dan anehnya justru terasa lebih tenang. Sekarang semuanya terasa “biasa saja”, bahkan hal-hal yang dulu dianggap “tidak biasa”. Aku tidak tahu sejak kapan semuanya berubah, tapi yang jelas, perubahan itu terasa.
“Hei, sini aja,” salah satu temanku memanggil. Aku menoleh, sedikit ragu.
“Males ah, jauh,” jawabku santai padahal bukan itu alasannya.
“apaan sih, kayak orang asing aja,” ia tertawa. yang lain ikut nyaut, “udah santai aja, kita juga udah biasa kok, jangan kaku-kaku banget.”
Aku sempat melangkah mendekat, mencoba menyesuaikan diri. Duduk bersama mereka, ikut tertawa, ikut berbicara. Dari luar, semuanya terlihat biasa saja—tapi di dalam hati, rasanya tidak benar-benar sama.
Aku ingin jadi biasa saja. Tidak terlalu banyak berpikir, tidak merasa canggung, tidak mempertanyakan hal-hal kecil seperti ini. Aku ingin seperti mereka—ringan, santai, tanpa beban. Tapi selalu ada suara kecil itu Ini bener nggak sih?
Aku mencoba mengabaikannya, berkali-kali. Menganggapnya hanya pikiran yang berlebihan. Tapi semakin diabaikan, justru semakin terasa. Seolah ada sesuatu yang tidak bisa dipaksa untuk diam.
Di tengah tawa itu, aku justru merasa kosong. Bukan karena tidak diterima, tapi karena ada bagian dari diriku yang terasa tidak ikut hadir sepenuhnya.
Seolah aku ada di sana… tapi bukan benar-benar di sana.
Malamnya, aku duduk sendiri di masjid. Suasananya jauh lebih tenang. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan ringan, hanya suara langkah pelan dan beberapa orang yang larut dalam diam. Di tempat seperti ini, pikiranku justru terasa lebih jernih.
Aku mulai mengingat banyak hal. Tentang batas yang dulu dijaga, tentang rasa malu yang dulu justru dianggap perhiasan, tentang bagaimana semuanya terasa lebih terarah tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Dulu… terasa lebih aman.
Sekarang semuanya memang terasa lebih bebas. Lebih santai, lebih terbuka. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang ikut hilang bersama kebebasan itu.
Dan itu bukan hal kecil.
Aku tidak ingun menghakimi siapa pun. Aku juga tidak merasa paling benar. Aku hanya menyadari, ada perubahan yang pelan-pelan menyingkirkan sesuatu di dalam hati.
Dan aku tidak ingin kehilangan itu sepenuhnya.
Keesokan harinya, suasana masih sama. Orang-orang yang sama, tempat yang sama, bahkan tawa yang sama. Aku kembali berdiri di titik yang hampir sama seperti kemarin.
Kali ini aku tetap menyapa, tetap tersenyum, tetap bersikap baik seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari luar.
Tapi aku memilih untuk menjaga jarak.
Bukan karena merasa lebih baik.
Bukan juga karena ingin menjauh.
Tapi karena aku hanya ingin menjaga sesuatu…
yang dulu pernah dijaga.
Mungkin bagi sebagian orang ini terasa berlebihan. Mungkin juga terlihat aneh di tengah kebiasaan yang sudah berubah. Tapi tidak apa-apa.
Karena kadang, yang benar memang terasa asing… di saat semua orang mulai terbiasa dengan yang sebaliknya.