Masisir Gak Bisa Nulis Ilmiah? 5 Langkah Sederhana Memahami Struktur Karya Tulis
Belakangan ini, saya sempat mendengar selentingan di salah satu media sosial yang menyebutkan bahwa Masisir saat ini tidak bisa membuat tulisan ilmiah. Pernyataan ini menarik untuk dicermati, sebab banyak orang memandang karya tulis ilmiah sebagai beban yang rumit dan sekadar rutinitas formalitas kampus—terkhusus di Indonesia. Padahal, jika dipahami logika dasarnya, penulisan ilmiah hanyalah salah satu bentuk dari penulisan argumentatif yang alur berpikirnya sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari.
Penulisan argumentatif pada dasarnya adalah upaya membela suatu ide atau pendapat (tesis) dengan memberikan penjelasan dan bukti yang valid. Alur berpikir ini bersifat universal. Ketika kita sedang chatting—misalnya—menyarankan teman untuk menjadi muthawwif atau berdebat di media sosial mengenai mengapa Masisir harus berorganisasi atau ikut talaqi, kita sedang menerapkan penulisan argumentatif.
Perlu diingat, tata cara pembabakan dan aturan formal di kampus tentu memiliki aturannya tersendiri. Pembabakan suatu kampus bisa berbeda dengan kampus yang lain. Namun, dari sisi tata nalar atau alur berpikir, penulisan ilmiah sebenarnya sangat sistematis dan dapat dibedah secara logis melalui lima struktur utama:
1. Pendahuluan (Latar Belakang & Tesis)
Bab ini bertugas menjelaskan alasan di balik topik yang diangkat agar tidak berkesan “datang tanpa sebab”. Di sini kita memaparkan:
-
- Latar belakang masalah yang menjadi pemicu.
- Pertanyaan yang ingin dijawab.
- Gagasan/dugaan awal (tesis atau hipotesis) yang hendak dibela.
Dalam chatting muthawwif, bagian ini seperti kalimat pembuka. Contoh: “Musim libur semester telah tiba dan banyak agen travel membuka lowongan pembimbing ibadah. Melihat kondisi waktu luang dan kebutuhan finansial mahasiswa, saya berpendapat bahwa mengambil pekerjaan sebagai muthawwif saat liburan adalah langkah yang tepat.”
2. Tinjauan Pustaka (Kajian Referensi)
Sebelum kita berargumen, kemungkinan besar sudah ada orang lain yang membahas topik serupa dengan sudut pandang berbeda. Tinjauan pustaka adalah tempat untuk menunjukkan pemahaman kita terhadap “diskusi yang sudah berjalan”, memetakan posisi argumen kita di antara pendapat orang lain, serta memaparkan landasan teori yang dipakai.
Contoh: “Sebagian orang beranggapan muthawwif hanya membuang waktu belajar. Tetapi, senior yang pernah menjadi muthawwif mencatat bahwa pengalaman lapangan justru mengasah skill komunikasi dakwah dan pemahaman fikih jamaah yang tidak didapat di ruang kelas.”
3. Metodologi Penelitian (Cara Kerja)
Bahasa sederhananya—cara. Bagian ini mendefinisikan batasan istilah agar tidak ambigu serta menjelaskan langkah-langkah atau metode yang digunakan untuk menguji apakah dugaan (hipotesis) kita benar-benar valid dan terukur.
Contoh: “Kita definisikan ‘manfaat’ dari dua indikator: penguatan finansial (akumulasi tabungan) dan pengasahan kompetensi (jam terbang memimpin jamaah). Cara membuktikannya adalah dengan membandingkan data efisiensi waktu libur antara mahasiswa yang bekerja dan yang tidak.”
4. Pembahasan (Penyajian Data & Argumen)
Inilah inti dari penulisan. Pada skripsi atau tulisan ilmiah, bab ini memaparkan hasil dari penerapan metode penelitian. Sementara pada tulisan opini atau perbincangan sehari-hari, bagian ini diisi dengan penyajian argumen yang logis dan bukti-bukti pendukung (data/fakta) yang menguatkan ide utama.
Contoh: “Pertama, dari sisi finansial, akumulasi honor selama 14 hari bertugas mampu menutup biaya hidup 2-3 bulan ke depan. Kedua, dari sisi kompetensi, praktik merawat jamaah dan memimpin manasik secara langsung terbukti meningkatkan kepercayaan diri saat ujian lisan fikih ibadah.”
5. Kesimpulan
Bagian penutup ini berfungsi untuk menegaskan kembali tesis utama berdasarkan bukti-bukti yang telah dipaparkan. Intinya adalah menyatakan secara ringkas bahwa gagasan atau dugaan awal kita memang terbukti benar.
Contoh: “Berdasarkan efisiensi waktu, manfaat finansial, dan peningkatan kompetensi, dapat disimpulkan bahwa menjadi muthawwif saat liburan merupakan opsi yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa.”
Terlepas dari aturan formal kampus, jika kita paham kelima alur nalar di atas, menulis karya ilmiah sebenarnya hanyalah proses menyusun cara berpikir yang runtut dan masuk akal. Memahami penulisan ilmiah sama saja dengan melatih struktur berpikir yang logis dalam mengambil keputusan maupun berargumen. Baik untuk menyusun skripsi, menulis artikel opini, maupun sekadar berdiskusi secara sehat, penguasaan alur bernalar ini akan membantu kita untuk belajar.
Sumber Pembahasan: Youtube Cania Citta, Cara Berpikir yang Benar, 2024.