Budaya Sebagai Identitas: Mahasiswa Jawa Barat Rawat Tradisi Sunda di Tanah Afrika

Budaya Sebagai Identitas: Mahasiswa Jawa Barat Rawat Tradisi Sunda di Tanah Afrika

ksmrmesir.org — Jarak belasan ribu kilometer dari tanah air tidak melunturkan komitmen Kekeluargaan Paguyuban Mahasiswa Jawa Barat (KPMJB) untuk merawat identitas budayanya. Melalui gelaran ke-10 Gebyar Parahyangan (GP) di Capital Palace, Senin (27/7), KPMJB menegaskan bahwa tradisi Sunda adalah identitas diri yang harus terus hidup dan dibanggakan di tanah perantauan.


Bagi mahasiswa Jawa Barat di Mesir, kebudayaan adalah benteng identitas. Panggung GP ke-10 menjadi bukti nyata bagaimana simbol-simbol tradisi—mulai dari alunan gamelan, angklung, Tari Merak, hingga atraksi Sisingaan—dihadirkan secara penuh totalitas. Bahkan, demi menjaga keaslian dan kesakralan identitas tersebut, berbagai properti pertunjukan seperti kostum Tari Merak dan properti Sisingaan didatangkan langsung dari Depok, Indonesia.


“Harapan kami tradisi Sunda Jawa Barat bisa tetap eksis di zaman modern. Meski jauh dari tanah rantau, budaya jangan dilupakan,” ujar Reynaldi, Ketua Pelaksana Gebyar Parahyangan.


Kesadaran akan pentingnya menjaga akar budaya ini dikemas secara apik dan adaptif. Tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya, seni silat, tarian, dan musik khas Sunda dipadukan dengan sentuhan modern yang dekat dengan anak muda. Langkah inovatif ini diambil agar nilai-nilai identitas lokal tetap relevan dan mampu memikat generasi millenial serta Gen Z di perantauan.


Apresiasi tinggi pun mengalir dari berbagai pihak. Kehadiran lebih dari 1.000 penonton yang terdiri dari elemen mahasiswa, tamu internasional, hingga perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) mempertegas bahwa identitas budaya lokal memiliki daya pikat universal. Perwakilan KBRI juga menekankan bahwa kesadaran berbudaya dan kreativitas bersosialisasi ini menjadi modal penting dalam pengabdian kepada masyarakat luas kelak.


Atmosfer Nusantara makin kental dengan hadirnya bazar jajanan khas Indonesia di luar aula, melengkapi ruang rindu para perantau akan kampung halaman.


Gebyar Parahyangan ke-10 mempertegas, bahwa dari budayalah tumbuh kesadaran identitas, dan dari identitas itulah lahir tanggung jawab untuk terus mengharumkan nama daerah asal di mana pun kaki berpijak.


Reporter: Muhammad Hafizh Dzikra

Editor: M. Azra El Falah

Budaya Sebagai Identitas: Mahasiswa Jawa Barat Rawat Tradisi Sunda di Tanah Afrika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *