Tinta Emas yang Terlupakan: Meneladani Peran Santri dan Ulama dalam Kemerdekaan

Tinta Emas yang Terlupakan: Meneladani Peran Santri dan Ulama dalam Kemerdekaan

Kita tidak sedang membicarakan dongeng atau romantisme masa lalu, kita diingatkan kembali pada aksi heroik para pendahulu—para guru dan ulama kita—dalam mempertahankan Tanah Air tercinta. Perjuangan mereka adalah mahakarya yang terukir abadi. Meski berulang kali coba dikikis oleh narasi penguasa, bukti sejarah dan ingatan masyarakat akan selalu menyuarakan kebenarannya.


Presiden Soekarno pernah menyerukan pesan legendaris: “Jas Merah—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Sejarah adalah kompas bertindak untuk menatap masa depan agar kita tidak jatuh ke lubang kesalahan yang sama. Secara etimologi, kata sejarah diserap dari bahasa Arab, Sajaratun, yang berarti pohon. Sebagaimana pohon memiliki siklus yang mengulang serta mempertautkan akar, batang, dan daun, demikian pula sejarah—sebuah kesinambungan yang tak terputus antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah manis dari pengorbanan dan tetesan darah para syuhada. Kaum santri dan kyai pada masa pergerakan adalah kelompok terpelajar dan berintelektual tinggi yang tidak mudah Dibidoh-bodohi atau ditundukkan oleh penjajah. Ketika hak dan kebebasan bangsa dirampas, mereka menyusun strategi, melewati malam-malam panjang dalam sujud, penjagaan, dan studi.


Jihad mereka adalah membela kemerdekaan, dengan prinsip abadi: “Hidup Mulia atau Mati Syahid.” Puncaknya terjadi ketika KH. Hasyim ‘Asy’ari memungut seruan ‘Resolusi Jihad’ pada 22 Oktober 1945. Pekik tersebut menjadi pemantik utama pertempuran sengit 10 November di Surabaya. Ribuan santri dari berbagai pesantren besar—seperti Tebuireng, Lirboyo, hingga Gontor—turun ke medan laga berbekal bambu runcing dan keyakinan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah fardhu ‘ain.


Sebagian pihak kerap menilai bahwa membicarakan kehebatan umat Islam dalam kemerdekaan adalah bentuk dinina-bobokan oleh sejarah. Pandangan tersebut keliru. Kita berhak bangga karena para guru dan pendahulu kita adalah pelaku sejarah yang mengalirkan keagungan nilai dari generasi ke generasi. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara dalam karya fenomenalnya, Api Sejarah, peran ulama dan santri adalah fondasi utama dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Sayangnya, narasi sejarah arus utama sering kali meminggirkan sejarah ini. Buku-buku pelajaran sekolah kerap menampilkan seolah-olah kemerdekaan hanya diusung oleh kelompok sekuler/nasionalis, tanpa memberi porsi yang adil bagi kontribusi pesantren. Oleh karena itu, prinsip ‘Jas Merah’ harus kita hidupkan kembali. Kita wajib menjaga dan mentransmisikan fakta sejarah yang jujur agar tidak lenyap ditelan zaman.


Sebagai penentu sejarah masa kini, tugas kita adalah melanjutkan perjuangan tersebut dengan mengukir ‘tinta emas’ baru. Cara terbaik menghargai darah para pahlawan adalah dengan menuntut ilmu, membina kapasitas diri, dan mengabdikan ilmu tersebut untuk memperbaiki kondisi umat, rakyat, dan Bangsa Indonesia yang kita cintai.

Tinta Emas yang Terlupakan: Meneladani Peran Santri dan Ulama dalam Kemerdekaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *