Sengaja Cari Susah: Mengapa Mahasiswa Hari Ini Butuh Voluntary Hardship?
Jujur saja, kita—mahasiswa hari ini—adalah generasi paling manja dalam sejarah umat manusia. Kita hidup di era di mana lapar tinggal scroll aplikasi makanan, nyari referensi tugas tinggal ketik di AI, dan tugas kuliah bisa kelar tanpa kita perlu memeras otak sampai pusing. Semua serbanyaman, serbacepat, dan serbainstan. Namun, sadarkah Kamu kalau kenyamanan ini sebenarnya adalah jebakan batman yang sedang merusak mental dan fisik kita? Sains modern sepakat pada satu kesimpulan: kemudahan instan yang kita nikmati hari ini adalah racun yang menurunkan kapasitas berpikir dan merusak imunitas kita. Jika ingin tetap waras, kompeten, dan tangguh di masa depan, kita tidak punya pilihan lain selain keluar dari zona nyaman dan “menyengajakan diri mencari kesusahan” (voluntary hardship).
Mengapa seberani itu menyebut kemudahan sebagai racun? Jawabannya ada pada biologi kita sendiri. Otak dan tubuh manusia itu seperti mesin yang didesain selama ratusan ribu tahun untuk hidup susah—berburu, bertani, dan memecahkan masalah rumit demi bisa bertahan hidup. Otak kita adalah otot yang baru akan berkembang maksimal kalau terus-menerus dihantam tantangan. Prinsipnya: if you don’t use it, you lose it.
Anomali terjadi ketika teknologi memanjakan kita dalam 30 tahun terakhir. Ketika otak dan fisik kita dipaksa “pensiun” oleh segala kemudahan instan, sistem saraf kita mengalami degradasi. Jangan heran kalau generasi kita hari ini menjadi generasi yang paling rapuh mentalnya—dikit-dikit kena anxiety, gampang stres, jenuh, dan cepat lelah. Kita tidak kekurangan fasilitas, kita hanya kekurangan tantangan!
Untungnya, masyarakat modern Barat mulai sadar dengan kegilaan ini. Mereka akhirnya menciptakan tren yang tampak bodoh tapi sangat ilmiah: voluntary hardship atau penderitaan yang sengaja dipilih. Orang-orang kaya di sana sekarang rela bayar mahal untuk menyiksa diri secara terkontrol. Mereka nge-gym buat ngangkat besi berat, puasa berjam-jam (intermittent fasting) demi memicu detoksifikasi sel tubuh (autophagy), sampai mandi air es ekstrem (cold plunge). Dalam dunia neuroscience, penderitaan terkontrol ini dinamakan hormesis—stres dosis kecil yang membuat tubuh dan otak kita berkali-kali lipat lebih kuat.
Bagi kita yang muslim, konsep menyengajakan susah ini sebenarnya sudah ada dari lama. Islam sejak awal sudah mendesain ibadahnya sebagai sistem voluntary hardship untuk menjaga kewarasan manusia. Di dalam Al-Qur’an (Surah Al-Balad: 4), Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan kabad (struggle/kesulitan). Kita memang dicetak untuk berjuang, bukan untuk rebahan mandul! Syariat salat lima waktu yang memotong waktu santai kita, kewajiban puasa yang menahan lapar, hingga perintah bangun subuh atau Tahajud di pagi buta sebenarnya adalah latihan regulasi diri agar hawa nafsu kita tidak manja dan liar.
Kembali ke realitas kita di kampus. Fenomena kemalasan berpikir akademis sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Budaya copas, ketergantungan mutlak pada AI, dan kebiasaan menghindari bacaan berat adalah bukti nyata bahwa kita sedang menjinakkan otak kita sendiri sampai tumpul.
Oleh karena itu, untuk tetap menjaga/mengembalikan sifat manusia kita, kita harus tolak menjadi jinak oleh kenyamanan zaman. Carilah penderitaan yang produktif. Paksa diri Kamu membaca buku-buku tebal, ambil proyek riset yang rumit, belajar menulis opini yang kritis dan batasi penggunaan gadget.
Kesusahan terkontrol adalah satu-satunya cara bagi kita untuk tetap bertumbuh. Jadi, selamat mencari kesusahan, dan mari kita lihat seberapa tangguh kita dibentuk olehnya!