Lentera yang Padam Sebelum Malam

Lentera yang Padam Sebelum Malam

Debu-debu berdansa lambat di bawah tembakan cahaya bulan yang menerobos celah ventilasi. Rumah itu sudah menjadi asing sejak pemiliknya pergi, menyisakan bau kertas lembap, bau minyak, dan keheningan yang pekat untuk dirasakan dada.

 

Abbas berdiri mematung di ujung koridor gelap. Langkah kakinya membekas di atas lantai semen yang sudah tidak disapu selama tiga minggu. Di tangannya, sebuah buku catatan bersampul kulit usang.


Ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Pak Danu. Meja jati tua di sudut ruangan masih menyisakan cangkir kopi yang mengering, menyisakan lingkaran hitam di permukaannya bagai sebuah gerhana kecil. Di samping cangkir itu, bertengger sebuah pena air berbahan logam berat berwarna hitam legam dengan aksen emas—senjata andalan sang maestro semasa hidup.


Abbas mengusap sampul buku catatan di genggamannya. Ibu jarinya menyapu sisa debu tebal, menyingkap tekstur kulit yang mulai mengelupas.


Tulisan yang baik tidak lahir dari kepala yang bising, Bas.


Suara serak-serak basah Pak Danu mendadak bergaung di kepala Abbas, begitu jernih hingga ia refleks menoleh ke arah kursi goyang di dekat jendela. Kosong. Hanya ada bayangan gorden yang bergoyang ditiup angin malam.


Abbas menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia membuka halaman pertama buku catatan tersebut. Aroma khas kertas tua—kombinasi antara vanila dan jamur—langsung menguar, memicu denyut di pelipisnya.


Di sana, tertulis lembar demi lembar draf kasar dengan tinta biru tua. Tulisan tangan Pak Danu yang khas. Abbas membalik halaman demi halaman hingga matanya terpaku pada satu judul yang ditulis di bagian atas halaman baru: “Lentera yang Padam Sebelum Malam”.


Jantung Abbas berdegup kencang saat matanya menyapu baris-baris kalimat pembuka naskah tersebut:
Ada sebentuk gulita yang mengendap dalam bisu, menyusup di sela-sela rekah jemari para jiwa yang direnggut dari suluhnya…


Kalimat itu sangat hidup, matang, dan sangat sempurna. Kontras dengan naskah miliknya sendiri di kamar kos yang hambar, mentah, dan mati—meski ia sudah begadang selama dua minggu penuh demi mengejar tenggat waktu Penghargaan Sastra Kala Kencana yang menyisakan tiga hari lagi.


Abbas meraba pena logam milik Pak Danu di atas meja. Jari-jemarinya gemetar saat merasakan dinginnya logam itu menjalar ke telapak tangan. Suara dengung mulai mengusik telinganya.


Ia tahu apa yang ada di tangannya. Itu adalah sebuah mahakarya yang belum sempat menyapa dunia. Dan di dalam kepalanya yang bising oleh ambisi, sebuah bisikan iblis mulai merayap naik.

 


Tiga jam kemudian, Abbas sudah terduduk di depan meja belajarnya yang sempit. Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sumpek, dikepung oleh tumpukan buku sastra yang berantakan, bungkus mi instan yang mengering, dan puntung rokok yang menggunung di dalam asbak kaleng.


Cahaya biru dari layar laptop memantul di bola matanya yang kemerahan akibat kurang tidur. Di sudut kanan bawah layar, jam digital menunjukkan pukul 02.14 AM.


Tiga hari lagi. Hanya tiga hari sebelum gerbang pendaftaran Kala Kencana ditutup rapat.


Abbas menatap draf cerpen buatannya sendiri yang berjudul “Metropolis dan Sepasang Sepatu Kusut”. Ia membaca ulang paragraf pertamanya:


“Rian berjalan menyusuri trotoar yang basah oleh sisa hujan. Lampu jalanan neon berkedip-kedip ritmis. Ia tahu ia terlambat, tapi kakinya terlalu lelah untuk bergegas.”


Kalimatnya lugas, modern, dan minimalis. Gaya khas anak muda masa kini yang berusaha memotret realitas. Setiap kali Abbas membacanya, ia hanya merasakan kekosongan yang hambar. Tulisannya seperti tubuh tanpa jiwa. Ia kekurangan metafora yang menggetarkan, kedalaman filosofis yang biasa ia temukan pada karya-karya besar.


Ia lalu melirik buku catatan Pak Danu yang terbuka di samping laptopnya. Dengan tinta biru yang mulai meresap ke pori-pori kertas usang, tulisan sang mentor seperti bernapas.


Ada sebentuk gulita yang mengendap dalam bisu, menyusup di sela-sela rekah jemari para jiwa yang direnggut dari suluhnya. Di belantara beton ini, manusia tak lagi bergidik pada kelam, mereka justru gentar pada kehampaan yang disisakannya.


Abbas meremas rambutnya dengan. Perbedaan itu terlalu mencolok. Miliknya adalah coretan seorang amatir, sementara milik Pak Danu adalah simfoni yang digubah dengan ketenangan batin bertahun-tahun.
“Kenapa aku tidak bisa menulis seindah ini?” bisiknya pada dinding kamar yang bisu. Ego Abbas yang terluka mulai berdenyut, menyuarakan ketakutan terbesarnya: bahwa ia hanyalah seorang penulis biasa-biasa saja yang akan segera dilupakan setelah lulus kuliah.


Kesunyian malam itu mendadak pecah oleh suara detik jam dinding. Abbas menarik napas panjang. Jemarinya yang dingin meraih pena air milik Pak Danu yang ia letakkan di sisi keyboard.


Klak.


Satu ketukan tombol pertama terdengar nyaring di keheningan kamar. Abbas mulai mengetik ulang kata demi kata dari draf milik Pak Danu.


A-d-a s-e-b-e-n-t-u-k g-u-l-i-t-a


Setiap ketukan keyboard bergema di dadanya, berpacu dengan detak jantungnya yang kian liar. Keringat dingin mulai keluar. Menetes lambat. Kamarnya yang dingin berubah menjadi pengap dan panas.


Ia seperti sedang menuntun hantu masuk ke dalam mesinnya. Gaya bahasa Pak Danu yang puitis dan melankolis kini mengalir lewat jari-jemari Abbas.


Abbas tidak menyalinnya mentah-mentah secara keseluruhan. Di bagian akhir naskah—di mana draf Pak Danu terputus karena sang mentor keburu jatuh sakit—Abbas memaksakan dirinya untuk menuliskan penutupnya sendiri. Ia mencoba meniru, menyamarkan suaranya, memoles akhir cerita itu dengan gaya melankolis yang dipaksakan agar terlihat selaras.


Pukul 04.10 AM, naskah itu selesai. Di layar laptop, dokumen tersebut kini diberi nama: Lentera yang Padam Sebelum Malam — oleh Abbas.


Abbas menatap nama itu bersandingan dengan judul mahakarya Pak Danu. Dadanya sesak. Ada rasa bangga yang aneh sekaligus menjijikkan yang merayap di sela-sela tulang badannya.


Jemari Abbas gemetar di atas touchpad laptop. Kursornya melayang di atas tombol “Kirim” pada formulir pendaftaran digital Penghargaan Sastra Kala Kencana.


Seberapa jauh kau rela melangkah untuk sebuah pengakuan, Bas?


Sebuah suara gaib—atau mungkin suara nuraninya yang sekarat—berbisik lirih. Namun, bayangan tentang piala emas Kala Kencana, tepuk tangan riuh para kritikus sastra, dan wajah-wajah kagum teman-teman kuliahnya langsung membungkam suara tersebut.


Klik.


Layar laptop memuat ulang, menampilkan pesan singkat yang terasa seperti vonis mati bagi kejujuran kreatifnya: “Terima kasih. Naskah Anda telah berhasil dikirim dan akan segera dinilai oleh Dewan Juri.”


Seketika itu juga, suara dengung—mulai berdengung di telinga kiri Abbas. Menandai awal dari penjara tak kasat mata yang baru saja ia ciptakan sendiri.

 


Dua bulan kemudian, dunia Abbas jungkir balik.


Ruang aula hotel bintang lima di pusat kota Jakarta riuh oleh denting gelas sampanye dan obrolan para elite sastra. Di atas panggung, sebuah spanduk beludru merah maroon membentang megah dengan tulisan emas: Malam Penganugerahan Penghargaan Sastra “Kala Kencana” 2026.


“Dan pemenang kategori Cerpen Terbaik tahun ini jatuh kepada… Abbas, dengan karya luar biasa: Lentera yang Padam Sebelum Malam!”


Suara pembawa acara menggema lewat pelantang suara. Tepuk tangan bergemuruh memecah ruangan. Cahaya lampu sorot putih terang menyorot tepat ke wajah Abbas, membuatnya silau dan separuh buta.


Abbas berdiri dengan lutut yang goyah. Jantungnya berdegup kencang. Saat ia melangkah naik ke panggung dan menerima trofi berlapis emas berbentuk pena bulu, suara dengung di telinganya berdenging kencang.


Siksaan sesungguhnya dimulai setelah malam penghargaan itu. Kebohongan pertama menuntut lahirnya kebohongan-kebohongan baru untuk bertahan hidup.

 


Satu minggu setelah kemenangan, Abbas diundang dalam sesi diskusi bedah karya di sebuah galeri seni independen yang dipadati mahasiswa sastra, kritikus, dan jurnalis. Ia duduk di kursi kulit di depan panggung kecil dengan mikrofon di genggaman.


“Abbas, saya sangat terpukau dengan metafora ‘lentera’ di halaman empat belas,” tanya seorang mahasiswi dengan mata berbinar kagum. “Bagaimana Anda bisa memikirkan simbolisme transisi dari cahaya menuju kegelapan yang begitu filosofis itu? Apa yang Anda rasakan saat menulis adegan tersebut?”


Abbas membeku. Tenggorokannya mendadak menyempit, kering seperti menelan pasir.


Halaman empat belas. Itu adalah bagian asli tulisan tangan Pak Danu yang ia ketik ulang tanpa mengubah satu huruf pun. Ia tidak tahu apa yang dirasakan Pak Danu saat menulisnya. Ia tidak memiliki koneksi spiritual dengan paragraf itu.


“Ah, itu…” Abbas membasahi bibirnya yang kering, mencoba tersenyum percaya diri meski telapak tangannya basah. “Saya… saya membayangkan tentang batas antara kepasrahan dan perjuangan. Lentera itu adalah sisa-sisa harapan manusia yang diredam oleh kenyataan. Saya menulisnya… dalam sekali duduk.”
Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti sampah yang menyumbat tenggorokannya sendiri. Di barisan belakang, ia melihat beberapa kritikus senior mengangguk-angguk kagum, mencatat penjelasannya ke dalam memo mereka. Abbas ingin muntah saat itu juga. Pujian-pujian itu datang bertubi-tubi, setiap apresiasi itu terasa seperti tamparan yang menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang pencuri yang mengenakan jubah sang guru.

 


Dua minggu setelah acara diskusi tersebut, sebuah tawaran besar datang. Sebuah penerbit mayor menawarkan kontrak penerbitan buku kumpulan cerpen solo untuk Abbas. Syaratnya berat: ia harus menyertakan Lentera yang Padam Sebelum Malam sebagai cerita utama, ditambah dengan sembilan cerpen baru dengan kualitas, gaya bahasa, dan kedalaman estetika yang setara.


Saat itu, Abbas diminta menemui editor senior tersebut di sebuah kedai kopi yang sepi. Namanya Pak Hermawan. Rambutnya sudah memutih, mengenakan kacamata berbingkai bulat, dan memiliki sepasang mata teduh yang langsung membuat Abbas merasa tidak nyaman.


“Minum kopimu, Bas,” ujar Pak Hermawan ramah sambil menyodorkan cangkir.


“Terima kasih, Pak,” jawab Abbas, mencoba menenangkan getaran di tangannya.


Pak Hermawan mengeluarkan naskah cetak Lentera yang Padam Sebelum Malam yang dipenuhi coretan stabilo kuning di beberapa bagian. Ia mengetuk-ngetuk kertas itu dengan jemarinya yang berkerut.


“Aku sudah membaca cerpen ini berulang kali, Bas. Sangat indah. Bahkan, terlalu indah untuk penulis seusiamu,” ujar Pak Hermawan dengan nada yang datar.


“Maksud… maksud Bapak?”


Pak Hermawan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam manik mata Abbas. “Gaya tulisanmu di sini, terutama caramu menyusun metafora alam dan transisi emosi karakternya… sangat mengingatkanku pada sahabat lamaku. Almarhum Danu. Kami dulu sering bertukar draf kasar saat masih muda. Caramu memilih diksi di naskah ini seperti Danu sendiri yang menulisnya dari liang kubur.”


DEG.


Jantung Abbas berhenti berdetak. Suara bising kedai kopi, denting sendok, desis mesin espreso, dan obrolan pengunjung lain—mendadak lenyap, digantikan oleh dengung yang memekakkan telinga. Ia merasa seperti ditelanjangi di tengah ruangan dingin itu.


“Danu memang guru yang hebat,” lanjut Pak Hermawan, matanya menyipit di balik kacamata. “Dia pasti sangat bangga muridnya bisa menduplikasi ‘jiwa’ tulisannya sedekat ini. Aku tidak sabar melihat sembilan naskah barumu nanti, Bas. Pastikan standarnya sama dengan ini, ya?”


Abbas hanya bisa mengangguk kaku dengan senyum yang dipaksakan. Di bawah meja jati, kedua tangannya mengepal erat sampai kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangan. Ia menyadari satu hal dengan sangat ngeri: penyamarannya kini berada di ujung tanduk, dan tuntutan untuk menulis karya baru dengan gaya yang bukan miliknya adalah hukuman mati yang mulai menjerat lehernya.

 


Malam-malam berikutnya berubah menjadi neraka. Kontrak penerbitan sudah ditandatangani, uang muka telah dicairkan ke rekeningnya, dan tenggat waktu untuk sembilan cerpen baru merayap maju bak algojo yang menenteng kapak.


Di kamar kosnya yang kini terasa semakin sempit dan mencekik, Abbas duduk di depan laptop.


Klak, klak, klak.


Ia mencoba menulis. Memaksakan jarinya memuntahkan kata-kata puitis, berburu diksi-diksi arkais dan metafora megah yang biasa digunakan Pak Danu.


Kesunyian mengecup kening malam yang lebam oleh rindu…


Abbas berhenti. Ia membaca kalimat yang baru diketiknya, lantas menghapusnya dengan kasar menggunakan tombol backspace.


Hambar. Palsu. Menjijikkan.


Setiap kalimat yang ia susun terasa seperti topeng plastik. Ia mencoba meniru gaya puitis-klasik sang mentor, namun jiwanya menolak. Di sisi lain, ketika ia mencoba kembali ke gaya tulisan aslinya yang modern-minimalis, ego dan ketakutannya langsung membentak “Kalau kamu menulis seperti ini, semua orang akan tahu bahwa pemenang Kala Kencana tidak bisa menulis sehebat itu! Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri!”


Abbas kehilangan suaranya sendiri. Ia tidak bisa maju dengan gaya Pak Danu, dan tidak berani mundur dengan gayanya sendiri. Di sudut meja, pena air milik Pak Danu berkilau di bawah lampu belajar—menertawakan kekerdilan jiwanya.

 


Malam peluncuran antologi pemenang Kala Kencana akhirnya tiba. Aula utama pusat kebudayaan dipadati oleh ratusan pasang mata. Abbas mengenakan kemeja batik formal, berdiri di belakang panggung dengan tubuh yang gemetar. Kepalanya pening, bunyi dengung di telinganya kini bertransformasi menjadi gemuruh.


“Mari kita sambut, pemenang utama kita, Abbas, yang akan membacakan fragmen paling emosional dari Lentera yang Padam Sebelum Malam!”


Suara riuh tepuk tangan mengantar langkah kaki Abbas menuju podium di tengah panggung. Sorot lampu yang panas langsung mengunci tubuhnya. Di depannya, ratusan penonton duduk dalam kegelapan, menanti dengan takzim. Di barisan depan, tampak Pak Hermawan duduk melipat tangan.


Abbas menyesuaikan posisi mikrofon. Tangannya yang memegang kertas naskah bergetar begitu parah hingga kertas itu berkersek lirih. Ia menarik napas, lalu mulai membaca.

 

“Ada… sebentuk gulita yang mengendap dalam bisu, menyusup di sela-sela rekah jemari para jiwa yang direnggut dari suluhnya.”


Suaranya menggema di seluruh ruangan. Penonton terhanyut. Namun bagi Abbas, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti duri landak yang dipaksa keluar dari tenggorokan. Keringat dingin mengucur deras di punggung.


Ia terus membaca hingga tiba di halaman empat belas—bagian yang paling sakral dari tulisan Pak Danu.

 

“Manusia tak lagi bergidik pada kelam, mereka gentar pada kehampaan yang…”


Suara Abbas tercekat. Lidahnya kelu. Di atas kertas naskah itu, huruf-huruf cetak berubah di matanya. Huruf-huruf itu tampak mencair, menjelma menjadi coretan tinta biru tangan Pak Danu yang asli, lalu merayap naik ke pergelangan tangannya, melilit lehernya bak rantai besi yang panas.


Abbas menatap ke depan, ke arah kegelapan penonton. Di sana ia seolah melihat sosok Pak Danu sedang berdiri, menatapnya dengan rasa iba yang amat dalam.


Seberapa jauh kau rela melangkah untuk sebuah pengakuan, Bas?


Abbas tidak bisa bernapas. Dadanya naik-turun. Udara di dalam aula mendadak habis. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kertas naskah di tangannya. Penonton mulai berbisik-bisik, mengira sang penulis muda tengah terhanyut oleh emosi karyanya sendiri.


Ini adalah puncaknya. Menara kebohongannya telah runtuh menimbun dirinya sendiri.


“Maaf…” bisik Abbas lirih ke mikrofon.


Ia tidak melanjutkan bacaannya. Dengan tangan yang lemas, Abbas menurunkan mikrofon, melangkah mundur dari podium, lantas berbalik arah. Ia turun dari panggung, mengabaikan seruan bingung pembawa acara dan riuh kasak-kusuk ratusan orang yang ditinggalkannya.

 


Abbas mengunci diri di ruang belakang panggung. Napasnya memburu, dengung di telinganya mulai mereda, kini yang tersisa adalah keheningan.


Ia mengeluarkan ponselnya dengan jemari yang masih berkeringat. Membuka aplikasi email. Tangannya bergerak cepat, mengetik sebuah pesan yang ditujukan kepada Ketua Dewan Juri Kala Kencana dan pihak penerbit.


Dengan surat ini, saya, Abbas, menyatakan mengundurkan diri sebagai pemenang Penghargaan Kala Kencana 2026. Karya ‘Lentera yang Padam Sebelum Malam’ bukanlah tulisan saya, melainkan draf tak selesai milik mendiang mentor saya, Pak Danu, yang saya salah gunakan demi ambisi pribadi.


Saya siap menerima segala konsekuensi hukum, sanksi akademik, maupun pemboikotan industri atas tindakan memalukan ini. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada dunia sastra, dewan juri, dan terutama kepada nama baik almarhum Pak Danu.


Abbas menatap tombol ‘Kirim’. Kali ini, tidak ada keraguan. 

 

Wusss.


Email terkirim. Pada detik itu suara dengung di telinganya lenyap. Berganti dengan aliran udara segar yang mengalir masuk memenuhi paru-parunya. Kini ia telah bebas.

 


Dua hari kemudian, skandal itu meledak. Nama Abbas dicoret dari sejarah Kala Kencana, kontrak bukunya dibatalkan, dan ia menjadi bahan cemoohan di media sosial sastra. Abbas memilih mengurung diri di rumah lama Pak Danu, membersihkan debu-debu yang selama ini ia biarkan.


Sore itu, pagar rumah berderit. Pak Hermawan berjalan masuk, membawa sebotol sirup dan sebungkus camilan. Ia duduk di kursi teras, menatap Abbas yang keluar dengan wajah lelah.


“Bapak datang untuk memaki saya?” tanya Abbas, duduk di lantai teras.


Pak Hermawan terkekeh, lalu melepas kacamatanya. “Untuk apa? Kamu sudah memaki dirimu sendiri dengan cukup baik lewat email itu.”


Pak Hermawan merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah map usang berwarna cokelat. Di dalamnya ada lembaran kertas kekuningan—sebuah salinan draf naskah. Judulnya: Lentera yang Padam Sebelum Malam.
Abbas tertegun. “Bapak… sudah punya?”


“Danu mengirimkan draf kasar ini kepadaku lewat pos, lima tahun lalu sebelum dia wafat. Dia bilang dia mentok di tengah jalan,” kata Pak Hermawan. “Jadi, sejak pertama kali aku membaca naskah lomba yang kamu kirimkan, aku sudah tahu itu tulisan Danu. Aku tahu kamu mencurinya, Bas.”


Abbas membelalakkan mata. “Lalu… kenapa Bapak diam saja? Kenapa Bapak malah membiarkan saya menang dan menjerumuskan saya lebih dalam?”


Pak Hermawan menatap langit sore yang mulai memerah. “Karena aku tahu watakmu. Kamu persis seperti Danu waktu muda—perfeksionis dan keras kepala. Jika aku menuduhmu plagiat sejak awal di depan juri, egomu akan berontak. Kamu akan membela diri, mencari pembenaran, dan jiwamu sebagai penulis akan mati dalam dendam.”


Pak Hermawan menepuk bahu Abbas. “Aku sengaja membiarkanmu menang. Aku ingin kamu merasakan sendiri bagaimana rasanya dipenjara oleh pujian yang bukan milikmu. Aku tahu nuranimu masih hidup, Bas. Dan hukuman dari nuranimu sendiri jauh lebih efektif untuk mendidikmu menjadi sastrawan sejati daripada hukuman penjara atau denda uang. Sekarang lihat dirimu… kamu sudah kembali menjadi manusia, bukan?”


Abbas membeku. Air matanya menetes lagi, ini adalah air mata penebusan dan rasa terima kasih yang mendalam.

 


Enam bulan kemudian.


Sebuah kafe kecil di pinggiran kota, jauh dari hiruk-pikuk skandal ibu kota. Abbas duduk di meja sudut dekat jendela. Di atas meja, tidak ada lagi laptop mahal atau pena air berlapis emas milik Pak Danu. Pena logam itu sudah ia bersihkan dan ia letakkan dengan hormat di atas pusara sang mentor beberapa minggu lalu.


Di tangannya kini hanya ada sebatang pulpen gel murah seharga tiga ribu rupiah dan sebuah buku catatan baru bersampul polos.

 

Abbas menatap kertas putih di hadapannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati kesunyian kafe, lantas mulai menggoreskan tinta hitamnya.


Hujan sore ini tidak membawa gemuruh. Ia jatuh, lantas membasahi tanah yang kering, berbisik bahwa tidak apa-apa untuk memulai lagi dari bawah…


Kalimatnya sederhana. Minimalis. Tidak puitis mendayu-dayu seperti tulisan Pak Danu. Tulisannya belum sempurna, masih banyak yang perlu diasah. Saat Abbas membaca ulang kalimat itu, seulas senyum tulus terbit di wajahnya. Setiap kata yang menetes dari penanya adalah miliknya sendiri. 


Lentera yang Padam Sebelum Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *