Elegi di Balik Kelopak Mata

Elegi di Balik Kelopak Mata

Oleh: Lidia Arista
@lidiaarista19

 

Di luar sana, Kairo sedang memamerkan wajahnya yang paling sunyi. Angin gurun mengetuk-ngetuk kaca jendela apartemenku, membawa aroma debu dan sisa panas yang tertinggal di aspal. Namun, di dalam sini, di balik kelopak mata yang terpejam, aku sedang berada di tempat yang jauh berbeda. Aku sedang berada di rumah. Bukan rumah yang dibatasi oleh semen dan bata, melainkan rumah yang dibangun dari tawa, keringat, dan idealisme yang meluap-luap.

 

Aku sedang berdiri di tengah ruangan itu lagi. Ruangan yang penuh dengan bau kertas laporan, aroma kopi instan yang tumpah, dan suara riuh rendah yang tak pernah berhenti.

 

“Draft rundown-nya sudah siap?” suara itu terdengar begitu nyata.

 

Aku menoleh. Di sana, Hasni sedang sibuk dengan laptopnya, kacamata melorot ke ujung hidung. Di sudut lain, Arista sedang berdebat seru dengan Taul tentang teknis lapangan, sementara rekan-rekan divisi lain hilir mudik membawa tumpukan perlengkapan. Wajah-wajah itu… wajah-wajah yang solid, yang membuatku merasa bahwa dunia ini bisa kita genggam hanya dengan modal kebersamaan.

 

Kita adalah sebuah simfoni kecil di bawah naungan kepanitiaan itu. Kita yang pernah begadang hingga fajar menyingsing hanya untuk memastikan satu poin di proposal tidak bercelah. Kita yang pernah tertawa hingga sesak napas saat acara sukses besar, lalu menangis bersama di pelukan masing-masing saat evaluasi akhir yang mengharukan itu tiba.

 

Aku bisa merasakan kehangatannya. Aku bisa merasakan bagaimana bahuku ditepuk dengan akrab. Aku bisa mendengar suara gelak tawa kita yang memantul di dinding ruangan. Segalanya begitu puitis, begitu hidup, seolah-olah waktu telah membeku dan membiarkan kita abadi dalam fragmen kebahagiaan itu.

 

“Jangan lupa, kita akan selalu begini, kan?” tanyaku dalam keriuhan itu.
Mereka semua menoleh. Mereka tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat tulus, yang sanggup meruntuhkan segala tembok kesepian yang selama ini kubangun di tanah rantau ini. Aku merasa utuh. Aku merasa memiliki tempat untuk pulang.

 

Namun, perlahan-lahan, suara tawa itu mulai menjauh. Wajah-wajah mereka mulai mengabur, seperti lukisan cat air yang terkena tumpahan air. Ruangan yang hangat itu mendadak menjadi dingin. Aku mencoba menggapai tangan mereka, mencoba menahan agar mereka tidak pergi, tapi jemariku hanya menangkap udara kosong.

 

“Tunggu!” teriakku.

 

Aku tersentak. Kelopak mataku terbuka paksa.

 

Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar yang tinggi dan asing. Bukan langit-langit sekretariat yang penuh coretan, melainkan langit-langit apartemenku di Kairo yang bisu. Suara riuh itu hilang, digantikan oleh suara kipas angin yang berputar malas dan deru kendaraan sayup-sayup dari jalan raya.

 

Duniaku mendadak senyap. Ternyata, itu hanya mimpi.

 

Saking rindunya aku pada kenangan-kenangan yang kita rajut bersama, alam bawah sadarku menciptakan sebuah panggung sandiwara untuk memuaskan dahaga jiwaku. Aku duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kakiku menyentuh lantai yang dingin. Rasa sesak itu datang lagi—sebuah residu dari mimpi yang baru saja kualami.

 

“Ah, ternyata sudah usai,” bisikku pada kesunyian.

 

Kalimat itu terasa begitu pahit di lidah ‘Telah usai’. Sebuah frasa yang memvonis bahwa masa-masa indah itu kini hanya tinggal sejarah yang tersimpan dalam folder-folder digital dan memori yang mulai usang. Kepanitiaan yang solid itu, tim yang pernah membuatku merasa paling berharga, kini telah berpencar mengikuti garis takdir masing-masing.

 

Aku berjalan menuju meja kerja, membuka laptop yang layarnya masih menyala. Di sana, ada sebuah foto grup yang kujadikan latar belakang. Wajah-wajah yang tadi ada dalam mimpiku tersenyum di sana. Kami tampak begitu muda, begitu bersemangat, tanpa tahu bahwa beberapa tahun kemudian, kami hanya akan menjadi sebaris nama di daftar kontak yang jarang dihubungi.

 

Kerinduan ini adalah sebuah puisi yang tak memiliki rima. Ia menyakitkan, namun juga menenangkan. Menyakitkan karena aku tahu aku tak bisa kembali ke sana, namun menenangkan karena setidaknya aku tahu aku pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga untuk dirindukan.

 

Mimpi tadi adalah sebuah hadiah sekaligus hukuman. Hadiah karena aku bisa merasakan kembali hangatnya kebersamaan itu, dan hukuman karena aku harus bangun untuk menyadari bahwa aku kini sendirian di tengah kota yang luas ini.

 

Aku mengambil selembar kertas, lalu menuliskan satu kalimat pendek:

 

Terima kasih telah menjadi bagian dari ceritaku yang paling indah, meski kini bab itu telah usai.

 

Aku mematikan lampu, membiarkan kegelapan kembali memelukku. Di luar sana, bulan Kairo bersinar pucat, menjadi saksi bagi seorang anak manusia yang baru saja tersadar bahwa beberapa kenangan memang diciptakan bukan untuk diulang, melainkan untuk dikenang dalam diam.

 

Telah usai. Benar-benar usai. Namun, dalam mimpi-mimpi yang akan datang, aku tahu aku akan selalu kembali ke ruangan itu, mencari tawa kalian di antara bayang-bayang yang tersisa.

 

‘’Setiap pertemuan adalah pinjaman waktu, dan perpisahan adalah cara semesta mendewasakan jiwa.’’

 

Terbangun dari mimpi yang begitu nyata menyadarkan kita bahwa masa lalu adalah guru, bukan penjara. Kepanitiaan itu mungkin telah usai, namun kesolidan yang pernah terjalin menjadi pondasi karaktermu saat ini. Simpanlah kenangan itu sebagai bekal, lalu melangkahlah maju. Sebab, sesuatu yang indah tidak harus abadi untuk dianggap berarti.

Elegi di Balik Kelopak Mata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *