Doa dan Langkah Abah

Doa dan Langkah Abah

Oleh: Lidia Arista

Suara kipas angin tua di sudut ruangan karantina itu seolah menjadi irama pengiring rasa gelisah yang menggelayuti hati kami. Juni 2024, bulan yang seharusnya penuh bunga keberhasilan, justru terasa seperti musim gugur yang dingin bagi sebagian besar dari kami. Kabar itu datang bak petir di siang bolong, kami dinyatakan tidak lulus tes Kemenag untuk studi ke Mesir.


Dunia terasa runtuh. Di balik tumpukan kitab dan catatan kosakata bahasa Arab yang mulai kusam, ada mimpi-mimpi yang nyaris padam. “Mungkin memang bukan jalanku,” bisikku pelan, sambil menatap paspor kosong di atas meja. Aku lelah. Kami semua lelah.


Namun, di tengah kesunyian yang penuh keputusasaan itu, pintu mushola terbuka. Langkah kakinya tenang, namun mantap.


Beliau tidak datang dengan kemarahan. Tidak juga dengan kekecewaan. Abah duduk di antara kami, menatap mata kami satu per satu dengan binar yang tidak pernah padam.


“Kegagalan di satu pintu bukan berarti seluruh istana tertutup untuk kalian,” suara Abah memecah keheningan. “Mesir itu Negeri Para Nabi. Jika kalian punya niat tulus untuk menimba ilmu di sana, Allah tidak akan tidur.”


Abah adalah sosok yang luar biasa. Saat kami berada di fase paling rendah—fase ingin menyerah dan pulang ke kampung halaman—beliau justru menjadi orang yang paling sibuk. Beliau tidak hanya memberi semangat lewat kata-kata, tapi lewat tindakan nyata.


Kami melihatnya menelepon sana-sini hingga larut malam, mencari jalur alternatif, mengurus berkas-berkas yang rumit, dan meyakinkan setiap orang bahwa kami layak untuk berangkat. Abah mencari segala cara, mengetuk setiap pintu yang mungkin bisa terbuka, seolah-olah kami semua adalah anak kandungnya sendiri yang masa depannya sedang dipertaruhkan.


“Abah, kenapa Abah repot-repot sejauh ini? Kami bahkan sudah tidak yakin pada diri kami sendiri,” tanyaku suatu sore saat melihatnya tampak lelah.


Beliau tersenyum, senyum tulus yang membuat beban di pundakku terasa lebih ringan. “Tugas Abah adalah menuntun kalian saat jalanan gelap. Kalau kalian patah semangat, Abah yang akan jadi tongkatnya. Kalian harus sampai ke Negeri Kinanah itu.”


Berkat kegigihan Abah, perlahan-lahan harapan yang sempat mati mulai bersemi kembali. Beliau membenarkan arah langkah kami yang sempat melenceng karena ambisi, mengingatkan kami kembali bahwa tujuan utama adalah Tholabul ‘Ilmi (menuntut ilmu) karena Allah.


Kini, setiap kali aku membayangkan hamparan pasir di pinggiran Sungai Nil atau megahnya menara Al-Azhar, wajah Abahlah yang muncul di benakku. Tanpanya, mungkin kami sudah terkubur dalam penyesalan.


Terima kasih, Abah. Engkau bukan sekadar pendidik, tapi kompas yang menunjuki jalan saat kami tersesat. Semoga setiap butir peluhmu dan setiap doa yang kau langitkan untuk kami, dibalas oleh Allah dengan surga-Nya yang tertinggi.

Doa dan Langkah Abah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *