Odede di Bawah Menara Seribu
Oleh: Lidia Arista
Di sebuah balkon apartemen kawasan Darrasah, saat azan Magrib bersahut-sahutan dari ribuan menara di Kairo, Areta berdiri mematung. Angin musim semi yang membawa sisa-sisa debu gurun menerpa wajahnya, namun pikirannya terbang jauh melintasi Samudra Hindia, mendarat tepat di sebuah teras rumah di Nusantara.
Rindu, bagi Areta, bukan lagi sekadar perasaan. Ia telah menjelma menjadi tamu tak diundang yang menetap di sudut kamarnya, di antara tumpukan kitab Nahwu dan diktat kuliah yang tebal.
Malam itu, ia duduk di depan meja belajarnya. Ia mengambil ponsel, jemarinya ragu menyentuh layar. Di galeri fotonya, tersimpan sebuah rekaman suara singkat yang dikirimkan papa beberapa bulan lalu.
“Odede, belajar yang rajin ya di sana. Jangan lupa makan yang banyak. Papa tunggu di sini.”
Areta memejamkan mata. Panggilan “Odede” itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sebagai pemimpin organisasi di tanah rantau. Setiap kali suara itu diputar, rindu itu terasa seperti ombak besar yang menghantam karang—perih, dingin, dan menyesakkan.
Ia rindu bagaimana papanya selalu menjadi pendengar pertama bagi setiap keluh kesahnya. Ia rindu bagaimana papanya bangga saat ia pertama kali bergabung dengan OSIS tahun 2021 lalu, titik balik yang mengubahnya dari gadis pemalu menjadi orator yang berani. Sekarang, saat ia memimpin puluhan orang di sebuah organisasi, sosok yang paling ingin ia buat bangga justru tak lagi bisa ia peluk.
Untuk mengalihkan rasa sesak itu, Areta beranjak ke dapur kecilnya. Ia mulai memotong daging, menyiapkan bumbu-bumbu pekat untuk membuat Dendeng Balado. Di tanah Kinanah ini, memasak masakan rumah adalah satu-satunya cara baginya untuk pulang tanpa harus membeli tiket pesawat.
Aroma cabai yang digoreng dan wangi asam padeh yang mulai menyerbak memenuhi ruangan. Namun, setiap irisan bawang seolah mengingatkannya pada meja makan di rumah. Ia ingat betapa adiknya yang masih kecil sangat menyukai masakannya. Ia ingat wajah mamanya yang selalu cerewet soal kebersihan dapur.
“Ta, wangi banget masakannya,” suara Ara memecah lamunan. Teman-teman organisasinya memang sering mampir untuk sekadar mencicipi masakan Nusantara buatannya.
Areta tersenyum getir. “Iya, lagi pengen makan masakan rumah aja.”
Malam semakin larut. Setelah teman-temannya pulang, kesunyian kembali menyergap. Areta mengambil buku catatan kesayangannya. Baginya, menulis adalah cara terbaik untuk berbicara saat lidahnya kelu oleh kesedihan.
Ia menulis sebuah puisi tentang rindu yang tak punya alamat kirim. Ia menulis tentang bagaimana ia harus tetap tegar menjadi anak sulung, menjadi teladan bagi adik-adiknya, sementara di dalam hatinya ia masih seorang gadis kecil yang merindukan tepukan di bahu dari tangan papanya.
“Kairo punya seribu menara, tapi tak satu pun yang cukup tinggi untukku melihat wajahmu di balik awan. Aku merantau mencari ilmu, namun setiap langkahku justru membawaku kembali pada kenangan tentangmu.”
Areta menutup buku catatannya. Ia menyadari bahwa rindu yang mendalam ini tidak akan pernah hilang. Ia akan selalu ada, terselip di antara baris-baris puisi yang ia tulis atau dalam rasa pedas dendeng yang ia masak.
Namun, ia juga sadar bahwa rindu ini adalah amanah. Papanya ingin ia menjadi perempuan hebat, menjadi pemimpin yang bermanfaat. Maka, ia menghapus sisa air mata di sudut matanya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah cahaya kota Kairo yang tak pernah padam.
Rindu itu tetap ada, sangat dalam dan sangat sunyi. Tapi malam ini, Areta memilih untuk menjadikan rindu itu sebagai bahan bakar. Setiap kata yang ia tulis, setiap program kerja yang ia susun di sebuah organisasi, adalah surat cinta yang ia kirimkan ke langit.
Karena ia tahu, di suatu tempat yang jauh lebih indah dari Kinanah, sedang tersenyum menyaksikannya tumbuh, meski jarak mereka kini tak lagi bisa diukur dengan kilometer.