Di Balik Mendung Abu-Abu
Oleh: Lidia Arista
Ksmrmesir.org — Bagi Aira, hidup bukan sekadar bernapas, tapi tentang mewarnai. Ia adalah sosok yang tak bisa diam, tangannya selalu penuh dengan draf-draf kegiatan acara, dan langkahnya selalu terdengar di lorong-lorong pertemuan. Baginya, setiap organisasi adalah palet baru. Ada warna merah dari semangat diskusi, hijau dari kolaborasi tim dan kuning dari tawa di sela-sela evaluasi.
Aira mencintai kerumunan. Ia mencintai bagaimana ide-ide besar lahir dari banyak kepala. Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk bergabung dengan wadah baru yang katanya adalah tempat berkumpulnya warna-warna paling cerah.
Awalnya, semua tampak sempurna. Visi organisasi itu berkilau, orang-orang di dalamnya terlihat sangat visioner. Namun, saat Aira mulai masuk lebih dalam ke lingkaran intinya, ia menemukan satu warna yang tidak pernah ia duga sebelumnya, yakni warna Abu-abu.
Warna itu datang dari seseorang di posisi tengah. Awalnya terasa tenang, tapi lama-kelamaan, sifatnya yang “pasif dan agresif” mulai menyelimuti hari-hari Aira. Setiap kali Aira membawa warna oranye yang menyala, si Abu-abu ini mematikannya dengan kalimat, “Kayaknya itu terlalu berlebihan buat kita.” Dan setiap Aira mencoba merangkul anggotanya, si Abu-abu selalu menyebarkan keraguan untuk Aira.
Aira adalah wanita independen yang terbiasa menghadapi badai. Ia berjuang. Ia mencoba mengajak si Abu-abu berdiskusi, mencoba memahami perspektifnya, bahkan mencoba mewarnai orang tersebut dengan antusiasmenya. Ia percaya bahwa dalam organisasi, satu orang saja tidak boleh merusak ritme kerja ribuan orang lainnya.
Namun, perlahan Aira menyadari bahwa warna abu-abu ini bukan sekadar noda, melainkan mendung yang menetap.
Pada suatu sore yang berat, setelah rapat yang penuh dengan sindiran halus, Aira berdiri di jendela ruang pertemuan. Di luar, langit sebenarnya sedang sangat cerah, tapi di dalam ruangan itu dan di dalam hatinya semuanya terasa kelabu. Satu warna ini telah merusak seluruh kegembiraannya dalam berorganisasi. Semangatnya yang biasanya meluap-luap kini terasa berat, seperti pakaian yang basah kuyup terkena hujan.
Aira menarik napas panjang. Sebagai wanita yang mandiri, ia tahu bahwa ia tidak bisa mengontrol warna orang lain, tapi ia punya kendali penuh atas kuasnya sendiri.
“Aku bergabung di sini untuk menciptakan dampak, bukan untuk tenggelam dalam mendung orang lain,” batinnya. Ia berhenti mencoba mengubah si Abu-abu. Alih-alih membuang energinya untuk melawan awan tersebut, Aira memutuskan untuk membangun payungnya sendiri. Ia tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan profesional tingkat tinggi, namun ia memberikan batasan emosional yang tegas. Ia tidak lagi membiarkan komentar negatif itu merembes ke dalam kanvas pribadinya.
Hari itu, Aira belajar sebuah pelajaran berharga, yakni di tengah organisasi yang paling cerah sekalipun, akan selalu ada awan mendung. Perjuangannya bukan lagi tentang meniadakan mendung itu, tapi tentang memastikan cahaya di dalam dirinya tidak padam karenanya.