
Di Balik Dominasi: Sebuah Refleksi untuk Laki-Laki
Oleh: Yahyo Lincoln
Ksmrmesir.org—Beberapa waktu yang lalu, dunia massa dibuat tersedu oleh kabar yang datang dari saudari kita, Faradilla Ayu Pramesti, seorang perempuan berusia 23 tahun, mahasiswi semester akhir di Universitas Sultan Syarif Kasim Riau. Seorang perempuan dengan masa depan yang tampak cerah, namun nahasnya bertemu dengan seorang laki-laki berinisial R—sosok bejat yang terselip masuk ke dalam perjalanan hidupnya.
Tanpa melihat apa yang terjadi di antara mereka berdua sebelumnya, saya ingin menilai sosok berinisial R dari sudut pandang sesama laki-laki. Dan tidak terkhusus kepada si inisial R saja, tetapi kepada laki-laki di luar sana—terutama yang membaca esai ini.
Saya selalu berpikir: mengapa dalam setiap kasus yang melibatkan perempuan dan laki-laki, perempuan kerap mengisi posisi sebagai korban, sementara posisi pelaku didominasi oleh laki-laki?
Data menunjukkan 98,2% korban pemerkosaan adalah perempuan, dan 86,6% pelaku kekerasan terhadap perempuan adalah laki-laki. Terlepas dari kasus yang berhubungan dengan perempuan, 95% pelaku pembunuhan adalah laki-laki. Tanpa menutup mata bahwa perempuan juga kerap menjadi pelaku, jumlahnya tetap jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan laki-laki.
Apakah laki-laki memang dilahirkan secara alami sebagai hewan buas? Ataukah terdapat permasalahan yang lebih kompleks di dalamnya? Mari kita uraikan sedikit demi sedikit.
Dari segi biologis, terdapat hormon yang menjadi pembeda antara laki-laki dan perempuan, yaitu hormon testosteron. Apa itu hormon testosteron? Testosteron adalah hormon seks utama yang paling banyak ditemukan pada laki-laki dan berperan besar dalam perkembangan tubuh, fungsi reproduksi, serta beberapa aspek perilaku. Secara sederhana, testosteron adalah hormon yang membantu membentuk ciri khas biologis laki-laki.
Di antara fungsi hormon testosteron adalah berperan dalam pembentukan otot, libido, kompetisi, perilaku dominansi, serta pencarian status. Hormon ini juga dapat memengaruhi fungsi otak dan perilaku, seperti motivasi, kompetisi, kepercayaan diri, serta pengambilan risiko.
Apakah perempuan tidak memproduksi hormon testosteron? Tentu saja memproduksi, tetapi dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Data menunjukkan kadar testosteron pada laki-laki dewasa berkisar antara 300–1000 ng/dL, sedangkan pada perempuan dewasa sekitar 15–70 ng/dL. Secara umum, kadar testosteron laki-laki bisa 10–20 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Apakah hormon testosteron memiliki peran dalam perilaku kejahatan yang dilakukan laki-laki? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Memang benar testosteron memiliki keterkaitan dengan agresi, dominansi, dan kecenderungan mengambil risiko. Namun, perannya dalam kriminalitas tidaklah mutlak. Faktor lain seperti lingkungan sosial, kemiskinan, pendidikan, pengalaman masa kecil, serta kontrol impuls justru memiliki pengaruh yang sangat besar.
Namun penting untuk dipahami bahwa fakta biologis tidak pernah menjadi pembenaran atas sebuah tindakan. Jika laki-laki memang memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi yang dapat mendorong agresi, kompetisi, dan keberanian mengambil risiko, maka justru di situlah letak tanggung jawabnya. Potensi yang besar menuntut pengendalian yang besar pula. Tanpa nilai, pendidikan, dan kontrol diri, potensi tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi orang lain.
Hal ini sejalan dengan amanah yang diberikan Allah Swt. kepada laki-laki untuk mampu memimpin diri sendiri dan perempuan.
Selain kasus yang menimpa Faradilla Ayu Pramesti, banyak pula bentuk penyelewengan tanggung jawab laki-laki yang tidak terlalu tersorot. Contoh kecilnya ketika seorang laki-laki tidak mampu mengendalikan pandangan dan sikapnya terhadap perempuan, menganggap perempuan sebagai objek, merendahkan mereka dalam pergaulan, atau membiarkan dirinya terbawa oleh dorongan tanpa kontrol. Hal-hal yang sering dianggap sepele inilah yang pada akhirnya dapat menjadi pintu masuk bagi perilaku yang jauh lebih berbahaya.
Laki-laki sering kali ditempatkan pada posisi yang lebih depan dalam struktur tanggung jawab. Contohnya, sebelum seorang anak perempuan menikah, yang bertanggung jawab adalah ayahnya. Setelah menikah, tanggung jawab tersebut beralih kepada suaminya. Dalam banyak keadaan, laki-laki memang ditempatkan sebagai pihak yang memikul amanah perlindungan dan kepemimpinan.
Namun, posisi ‘di depan’ bukanlah tanda keunggulan tanpa konsekuensi. Justru posisi itu datang bersamaan dengan tanggung jawab yang lebih berat. Laki-laki dituntut untuk mampu mengendalikan dirinya terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjaga orang lain jika dirinya sendiri belum mampu dijaga?
Di sinilah letak persoalannya. Banyak laki-laki ingin berada di posisi depan, tetapi tidak semuanya siap memikul beban yang datang bersamaan. Ada yang ingin dihormati sebagai pemimpin, tetapi lalai dalam mendisiplinkan diri. Ada yang ingin diakui sebagai pelindung, tetapi justru menjadi sumber ketakutan bagi orang di sekitarnya.
Padahal, kepemimpinan sejati tidak dinilai dari kuasa, tetapi dari tanggung jawab. Bukan tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih mampu mengendalikan kekuatannya.
Mungkin di sinilah kita—para laki-laki—perlu kembali bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar siap berada di posisi yang Allah amanahkan itu, atau justru kita sedang menyalahgunakannya?
Maka, ketika saya memandang kasus yang menimpa Faradilla Ayu Pramesti, tentu saja yang patut diberikan sanksi adalah inisial R. Laki-laki tidak dinilai dari seberapa kuat fisiknya atau seberapa tinggi martabatnya, tetapi dari seberapa ia mampu menahan nafsu dan memikul tanggung jawabnya.
Bayangkan ketika inisial R lebih memilih menekan egonya untuk bertindak demikian, maka ia akan dinilai sebagai laki-laki yang penuh kekuatan, dan penuh akan nilai.
Melalui tulisan ini, saya berharap para laki-laki mulai menanamkan pola pikir bahwa kita memikul amanah besar dalam mengendalikan agresi dan dominasi. Sejak awal kita telah diberikan tabiat—testosteron yang melimpah—maka gunakanlah tabiat itu untuk melindungi, bukan mencederai.
Esai ini adalah opini saya pribadi, jika ada kesalahan maka silakan hubungi pihak Al-Jauhar untuk dikoresi lebih lanjut.