PPMI Mesir: Kebebasan Masisir Harus Berjalan di Atas Nilai Islam

Ksmrmesir.org – Jum’at (7/11), Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir (PPMI Mesir) menggelar diskusi terbuka bertajuk “Apa Kabar Masisir” di Kafe Gegek.id, Hay Asyir. Acara ini menghadirkan beberapa panelis, salah satunya Ustadz Faqih Ubaidillah Rozan, Lc, Dipl.

Diskusi ini berangkat dari fenomena meningkatnya kebebasan berekspresi di kalangan masisir. Sebagian mahasiswa membawa kebiasaan dari Indonesia yang dinilai kurang pantas untuk diterapkan di Mesir. Ditambah dengan peran media sosial yang mempercepat penyebarannya, fenomena ini menjadi perhatian serius. Melalui diskusi ini, PPMI Mesir berupaya mengulas akar persoalan sekaligus mencari solusi atas kondisi tersebut.

Dalam pembukaannya Ustadz Faqih mengatakan, “Bagi thālibul ‘ilm, hukum syara’ bukan sekadar pengetahuan, melainkan panduan yang mengatur setiap langkah dan adab sehari-hari. Bahkan kebebasan yang terlihat paling luas sekalipun tetap terikat oleh norma dan nilai yang melekat, agar perilaku seorang Azhari senantiasa selaras dengan prinsip-prinsip yang telah menjadi bagian dari identitas keilmuannya.”

Beliau menambahkan bahwa meski seorang Azhari berhak mengekspresikan diri, kebebasan itu tetap terikat oleh nilai dan norma yang berlaku. Norma Islam menjadi satu-satunya acuan yang tidak bisa diubah sesuai keinginan pribadi, karena menuntun thālibul ‘ilm untuk menyeimbangkan pengetahuan dengan adab dan akhlak. Kebebasan yang tampak luas sekalipun berjalan di atas prinsip yang melekat, memastikan seorang Azhari bertindak sesuai dengan identitas dirinya.

Lebih lanjut, Ustadz Faqih menegaskan bahwa setiap penyimpangan harus dianggap serius, meskipun tampak kecil atau tersembunyi. Menurutnya, masalah tidak dapat diukur dari jumlahnya. Ia menekankan tiga langkah penting untuk menanggulanginya. Pertama, memahami sebab dan musabab setiap masalah agar tindakan yang diambil tepat sasaran. Kedua, merumuskan norma yang jelas dan menyebarkannya melalui mediator, kekeluargaan, serta rumah binaan. Ketiga, memperkuat pengawasan agar perilaku yang melenceng dapat segera diberi arahan.

Beliau menambahkan, ketika penyimpangan justru dipublikasikan oleh pelakunya, hal itu menunjukkan konsekuensi moral dan reputasi yang melekat pada tindakan tersebut. Sering kali, masalah baru dianggap serius hanya karena jumlahnya banyak, padahal setiap kesalahan sekecil apa pun meninggalkan jejak yang dapat memengaruhi generasi berikutnya.

Ustadz Faqih juga menekankan pentingnya kepedulian dalam membimbing mereka yang mulai melenceng dari norma. “Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa setiap tindakan yang menuntun dan membimbing harus lahir dari niat yang tulus, bukan paksaan. Dengan kepedulian yang konsisten, seorang Azhari dapat menjadi teladan bagi orang lain, karena pengaruh positif dari perhatian sering kali lebih kuat daripada pengawasan formal.

Perbaikan, lanjutnya, bukan hanya tanggung jawab lembaga atau senior, melainkan kewajiban setiap individu untuk menjaga adab, nilai, dan integritas masisir secara kolektif.

Pada akhirnya, diskusi ini mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab dan kepedulian. Bagi seorang Azhari, kebebasan bukanlah hak untuk melakukan apa saja, melainkan kesempatan untuk menegakkan adab, nilai, dan integritas dalam setiap langkah. Setiap individu memiliki peran penting: menuntun diri agar tidak tersesat, memberi teladan bagi orang lain, dan menjaga agar komunitas masisir tetap sehat secara moral maupun spiritual. Kepedulian yang tulus terhadap sesama, kesadaran akan norma, serta pengawasan yang bijak menjadi fondasi yang memastikan kebebasan tidak berubah menjadi penyimpangan.

Dengan prinsip itu, setiap Azhari bukan hanya memperkuat karakter dirinya sendiri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya — menjaga agar tradisi dan prinsip Azhar tetap hidup, berpengaruh, dan relevan di tengah perubahan zaman.

Reporter: Rahmadani Eka Putri
Editor: Muhammad Yahya Abdurrahman

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *