Aku yang Dahulu
Gelak tawaRiang terucap tanpa beban halTak senonoh padahalMenancap pula ke selubung nadiIroninya dirimu, hei sialang jadukMerekah dusta kau katakanTipu daya kau rembeskanBongkahan itu,Telak menerjang sisa asa yang terguguTak mengapaSungguh tidak mengapaNyaliku telah berkutik kiniLelah ia mengumpat terusCeloteh pendam, pendam, dan pendamHingga satu dua semut berkerubungMenyayat asa perlahanTerambisi betul mengurung ‘aku’ di teropong piluMiris bukan?Aku yang …
